Jadi GURU; Mikir lagi deh

Kalau membicarakan pendidikan maka tidak akan ada habisnya, karena pendidikan itu, dinamis dan menarik. Senantiasa ada hal-hal baru yang muncul, karenanya jika guru tidak mampu bergerak cepat, mengejar perkembangan maka akan tertinggal. Pendidikan adalah upaya mengkader generasi penerus untuk dapat meneruskan keberlangsungan sebagai umat manusia, yang memilik tugas untuk beribadah kepada Robb-nya, yang berfungsi sebagai khalifah dimuka bumi dan memiliki peran menjalankan amanah atas produk kerububiyahan Alloh SWT (Al-Quran).

cikuya5Permasalahan yang muncul adalah pelajaran tersirat bagi para guru/pendidik. Kita sering memberikan pengajaran kepada siswa namun kita tak sadar secara tersirat kita pun sedang dididik oleh alloh SWT (tarbiyah rabbaniyah), melalui berbagai permasalahan dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Administrasi guru, siswa nakal, manajemen sekolah, hubungan sosial antar guru, antar guru dengan orang tua murid, dan segudang permasalahan dalam dunia pendidikan lainnya. semuanya adalah permasalahan yang harus dihadapi bukan sesuatu yang dihindari, atau sebagai bahan untuk mengeluh.

Menjadi guru itu susah, karenanya salah kalau ada ungkapan “ketimbang tidak ada kerjaan” jadi guru saja. Seolah guru adalah pekerjaan orang-orang yang tersisihkan dalam persaingan pekerjaan. Kenyataan hari ini demikian, masih banyak guru merupakan sebuah pilihan nomor sekian. Karena itu pantas saja kebanyakan jika profesionalitas guru masih kurang, dan berakibat terhambatnya kemajuan pendidikan.

Pendidikan kita membutuhkan guru-guru yang peduli, karena tanpa kepedulian tak ada yang namanya pendidikan. Seorang yang peduli tak mungkin membiarkan dirinya jumud dengan ketidak tahuannya, seorang yang peduli tak mungkin autis hanya memikirkan akan kehidupan dirinya. Kepedulian melahirkan sikap mau berkorban, karenanya tak mungkin menjadi pendidik seorang yang yang dalam pikirannya “guru adalah profesi” . Dimana Setiap profesi menuntut  gaji yang setimpal, bagaimanapun itu semua hanya sebuah kehinaan menghargai pendidikan dan pengajaran dengan materi yang tak seberapa. Karena itulah seringkali guru identik dengan ke-madesu-an, karena pendapatan yang pas-pasan, dan tidak punya masa depan.

Menjadi guru adalah menjadi orang tua,

Seorang guru yang peduli, layaknya orang tua yang peduli pada anaknya. Orang tua yang mencurahkan kasih sayang. Orang tua yang senantiasa sabar untuk kemajuan anak-anaknya. Kasih sayang orang tua bukan hanya memanjakan, namun sikap keras merupakan kasih sayang. Jadikan tamparan adalah tamparan cinta,  cubitan adalah cubitan mesra serta tendangan tendangan sayang. Sehingga diakhir setiap tamparan, cubitan dan tendangan menjadi sebuah kenangan bagi siswa yang membuatnya menangis sadar dan rindu terhadap gurunya dan mengucapkan “terima kasih kau dulu menamparku, terima kasih kau dulu mencubitku, terima kasih kau dulu menendangku”.

Menjad guru adalah menjadi artis

Artis senantiasa dinanti penggemar, seorang artis bahkan bisa menjadi seorang yang ditiru.  Maka untuk itu guru harus layaknya seorang artis, bagaimana seorang artis menjaga keindahan/kerapihan, sehingga terlihat perfect dihadapan penggemarnya. Kedatangannya dinanti, siswa merasa rugi jika melewatkan pertemuan dengannya. Setiap kata-katanya berharga setiap siswa akan memperhatikan semua penjelasannya.

Menjadi guru adalah menjadi motivator

Merasa lelah, merasa tidak semangat sering melanda siapapun karenanya guru harus mampu membangkitkan semangat siswanya. Ketika semangat meningkat, maka produktifitas, kreatifitas siswapun meningkat. Menjadi motivator adalah urusan transfer jiwa, karena tidak mungkin mampu memberikan motivasi ketika dirinya kurang motivasi. Maka guru bisa memotivasi, ketika guru tersebut memiliki semangat yang menjadi jiwa yang mampu memotivasi siswanya.

Menjadi guru adalah menjadi konselor

Konselor adalah orang yang memberikan konseling, memberikan masukan jalan keluar akan permaslahan siswanya. Konselor yang baik akan bisa memberikan pengarahan yang baik dan membuat siswa merasa tenang. Namun perlu diketahui bahwa setiap saran itu akan dipertanggung jawabkan dihadapan Alloh SWT. Karenanya masukan, saran yang kita berikan harus merupakan sesuatu yang memiliki dasar transedenstif, yang dapat dipertanggung jawabkan dan mengarahkan siswa untuk semakin memahami dan dekat dengan pencipta-Nya. Maka seorang guru itu adalah orang yang harus mengerti dien  agar generasi bangsa tidak “gagal paham” dan tidak menjadi generasi  tersesat .

Tentang arassh

i'm a moslem
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Pembinaan Diri, Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s