Ilalang Kampus; Protes dalam Diam

Suatu hari ada yang bertanya mengapa namanya harus ilalang kampus. Saya jarang menjawab atau memberi penjelasan namun sering mengarahkan setiap penanya untuk memahami pilosofi ilalang yang saya rangkum pada tagline “mungkin tak seindah bunga, tumbuhpun hanya sebagai gulma, namun adanya sebagai pertanda akan kurangnya zat hara”.

Ide Kata “ilalang” muncul ketika sedang menempuh pendidikan disebuah universitas di kota kembang. Memang saya bukan orang pergerakan, bukan aktifis kampus atau aktifis-aktifis yang suka teriak-teriak dijalanan. Justru sebaliknya, saya bisa disebut pasifis karena memang saya mahasiswa pasif yang selalu diam, namun diam saya adalah “diam-diam”. Ketika ada isu baik setingkat kampus, lokal ataupun nasional, saya tak pernah mengumpul-ngumpul masa, mempropokasi masa kemudian teriak-teriak dijalanan, atau melakukan seminar, diskusi panel atau kegiatan propokasi lainnya.

Namun walaupun demikian, yang mungkin sampai hari ini sayapun heran. Suatu hari saya pernah menjadi orang yang begitu dibenci dan kampus merasa gerah dengan apa yang saya lakukan. Mereka menekan, mereka mengintimidasi, padahal saya hanya diam. Nama saya masuk daftar hitam, aktifitas saya diawasi, dan dimata-matai. Setiap civitas jadi kepo dan memandang dengan sinis. Kata –kata saya dicurigai seperti mantra sihir yang harus diwaspadai. Hampir setiap hari struktural kampus mewanti-wanti, kepada siapapun yang berada pada lingkungan dimana saya berada.

Sindiran, ejekan, makian, tatapan sinis adalah makanan sehari-hari, sehingga kampus seolah-olah tempat asing bagi saya. Kegiatan akademispun “seolah” sudah tak objektif lagi. Menghadapi ini saya hanya diam, karena pikir saya mereka bukan butuh kebenaran, bukan butuh perlawanan tapi butuh sikap mengalah, dan membebek.

Pembusukan mereka lakukan, dengan melontarkan tuduhan yang aneh-aneh. Namun cara tersebut terbukti gagal, setiap tuduhan yang mereka lontarkan tidak ada satupun yang terdapat pada diri saya. Namun sepertinya mereka memang bukan butuh kebenaran tapi mereka hanya satu yang diinginkan yakni kehancuran saya. Kesalahanpun dicari-cari, dan setiap orang menjadi sangat bernafsu untuk mencari celah supaya bisa menzdolimi atau setidaknya mencari celah untuk bisa membully.

Apapun mereka mata-matai bahkan account media sosialpun mereka intai dan diblokir. Setiap kata apapun, setiap pendapat apapun yang keluar dari saya adalah najis dan sebuah kata “salah” apapun sumbernya.

Suatu hari saya pernah memberikan saran pada kegiatan yang dilakukan “institusi”, padahal tujuannya baik “memberikan saran” bahkan bahasa yang saya pergunakan adalah bahasa yang baik. kurang lebih kata-katanya seperti begini “ pa maaf kalo bisa biaya pendaftarannya dicantumkan biar transfaran”, namun responnya luar biasa “negatif”. Mereka marah-marah bahkan dengan bahasa “binatang” pun dikeluarkan. Saya dicari-cari dan mereka seolah menghakimi seorang penjahat, ketika mereka mengintrogasi dan bertanya maksud kata-kata yang saya lontarkan. Astagfirulloh salah apa saya?…..

Salah satu UKM kampus mengeluarkan saya secara tidak hormat, tanpa meminta klarifikasi terhadap saya. Saya hanya tersenyum dan menerima, serta memohon maaf jika selama saya aktif di UKM tersebut melakukan hal-hal yang membuat anggota lain terganggu.

Organisasi kedaerahan yang kebetulan saya sebagai ketuanyapun tidak luput dari stigma negatif. Mendengar namanya saja ada yang seperti melihat setan, seperti melihat kotoran dan beragam pandangan lainnya. Sehingga saya terasing benar-benar terasing. Tak mengapa seluruh manusia menjauh, saya kuat, pasti kuat, saya ridho dan saya tak takut. Namun saya takkan kuat dan saya takut kalau Dia (Alloh SWT) yang menjauh dan membenciku.

“aku masih sanggup seandainya seluruh makhlukMu membenciku, namun aku takkan sanggup jika Kau yang membenciku. aku masih sanggup seandainya seluruh makhlukMu menjauhiku, namun aku takkan sanggup jika Kau yang meenjauhiku”.

Itulah serentetan kejadian yang saya rasakan selama saya kuliah, saya seolah gulma yang tidak diharapkan keberadaanya. Namun perlu diketahui mengapa tumbuh gulma (ilalang) disuatu tempat, tiada lain karena pada tempat tersebut sudah tidak ada yang namanya zat hara (kebaikan). Aku tumbuh sebagai pertanda bahwa adanya ketidak benaran. Ilalang memang gulma, namun bagi manusia kreatif bisa menjadi barang seni yang bernilai, bagi seorang ahli kesehatan bisa menjadi obat yang menyehatkan. Aku memang ilalang, madharat bagi yang bodoh manfaat bagi yang berilmu. Saya memang diam, namun diam saya adalah “diam-diam”.

Tentang arassh

i'm a moslem
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s