Profesionalime Guru ; Kalau Profesi Harus Profesional

Setiap orang berhak untuk mengajar, asalkan mau dan mampu untuk mengajar. Profesi “guru” di indonesia masih rendah dalam segi pengakuan profesionalitas. Hal ini tidak bisa disalahkan karena mungkin “bisa jadi kenyataan menunjukan” profesionalisme guru masih rendah. Sering kali di tatar sunda jaman dulu profesi guru merupakan alat untuk menakuti anak gadis yang nakal “bisi dikawinkeun jeung guru” (nanti dinikahkan dengan guru. –penj). Kenapa profesi guru dijadikan alat untuk menakuti karena orang yang berprofesi sebagai guru memiliki kehidupan yang susah, sehingga anak gadis takut menikah dengan guru.

Selain itu seringkali pekerjaan sebagai guru seolah merupakan pekerjaan pelarian supaya tidak menganggur saja. Karena masih dilingkungan tatar sunda suka ada istilah “sahenteuna bisa-bisa jadi guru” (setidaknya bisa menjadi guru). Kata ini seolah pekerjaan guru merupakan pekerjaan paling bawah. Pantas saja seleksi masuk seadanya menghasilkan produk lulusan juga seadanya.

Profesi yang mungkin sangat di idamkan adalah dokter, karena anak-anak sering latah kalau ditanya mau jadi apa, jawabnya kebanyakan mau jadi dokter. Kita tahu kalau masuk ke fakultas kedokteran biayanya melangit, dan orang berani bayar walaupun harganya tinggi karena terbayang keuntungan kalau menjadi dokter. Dan yang masuk kefakultas ini tentunya orang-orang terpilih dengan latar belakang ekonomi yang baik.

Berbeda dengan negara jepang (kata orang— ), profesi guru merupakan profesi yang sangat dihargai, dan paling terhormat. Karena untuk masuk ke fakultas atau universitas yang mencetak guru itu harus mahasiswa-mahasiswa pilihan dengan tingkat kecerdasan terbaik. Mungkin kita sering dengar cerita ketika jepang luluh lantak karena bom atom Hiroshima dan nagasaki, kaisar jepang pada waktu itu menanyakan “berapa jumlah guru yang tersisa”, bukan berapa jumlah dokter yang tersisa. Sehingga dengan cepat jepang mampu mengejar ketertinggalan dan kini menjadi negara kuat dan maju.

Entah apa yang menyebabkan profesi dokter lebih tinggi dari pada guru, karena jika dilihat dari efek kesalahan kalau dokter salah maka yang mati puluhan tapi kalau guru yang salah yang rusak satu bangsa. Kalau ini pendapat saya, tanpa pemikiran mendalam dan penelitian dengan data yang valid. Terlepas dari cerita dokter dan guru, bukan hendak membanding-bandingkan karena iri dengan profesi dokter. Tapi disini saya sebagai guru lulusan universitas yang meluluskan guru-guru di Indonesia ingin mengajak untuk mengintrofeksi diri terutama kepada para guru yang gajinya sebulan hanya cukup untuk makan tiga hari. Biarlah gaji kecil yang penting ikhlas dan terus perbaiki profesionalisme kita karena yang namanya rizki itu sudah Alloh SWT atur. Profesionalisme bagus maka rizki akan mengikuti kita. Insya Alloh …. aminnn.

Itu mungkin sedikit curhat saja, mudah-mudahan mengurangi sedikit kegundahan dalam hati ini.

Baiklah sesi curhatnya cukup dulu, pada kesempatan ini sebenarnya saya ingin berbagi kepada para pembaca untuk terus meningkatkan profesionalisme kita sebagi guru. Ada beberapa hal yang harus diterapkan dan terus belajar untuk dilaksanakan dalam proses melaksanakan tugas sebagai guru, yaitu sebagai berikut:

  • Sebagai seorang guru harus mampu/ dapat membangkitkan perhatian peserta didik pada materi pelajaran dengan menggunakan berbagai cara dan media yang digunakan.

Membangkitkan perhatian peserta didik harus dengan sesuatu yang menarik atau dianggap penting bagi mereka. Karena itu wawasan harus luas dan update informasi selain itu seorang guru harus mampu menguasai teknologi terkini.

  • Sebagai guru harus mampu membangkitkan minat peserta didik untuk mau berfikir dan mencari solusi atau memecahkan masalah.
  • Sebagai seorang guru harus dapat membuat (sequence) urutan dalam pemberian pelajaran dan menyesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan berbagai variabel baik usia, pemahaman dan lain sebagainya.
  • Seorang guru harus mampu melakukan kegiatan apersepsi atau menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik
  • Seorang guru harus mampu menjelaskan unit pelajaran secara berulang-ulang sehingga peserta didik mendapat keterangan yang jelas
  • Seorang guru harus mampu menelaah dan memperhatikan korelasi antara mata pelajaran denga kehidupan nyata
  • Seorang guru harus mampu menjaga konsentrasi peserta didik
  • Seorang guru harus mengembangkan sikap peserta didik dalam membina hubungan sosial, baik dalam kelas maupun diluar kelas
  • Seorang harus memahami perbedaan setiap individu siswa sehingga tepat dalam memberikan pelayanan kepada setiap siswa/peserta didik.
  • Dapat melakukan evaluasi yang efektip serta menggunakan hasilnya sebagai bahan perbaikan diwaktu berikutnya.

Itulah beberapa point yang harus dilakukan oleh guru supaya kita dapat memperbaiki profesionalisme kita. Tentunya selain yang telah dijelaskan pada 10 point tersebut kita harus menguasai kurikulum-kurikulum yang sedang dijalankan supaya apa yang kita lakukan sesuai dengan tujuan pendidikan dan berjalan sesuai dengan kurikulum yang diberlakukan. Dan harus memahami kompetensi-kompetensi apa yang harus dikuasia guru supaya menjamdi gur profesional. Sehingga kalau guru sudah merupakan profesi maka seorang guru harus profesional. Tentunya rizkinya pun akan sesuai dengan profesionalismenya tersebut.

Referensi :

Uno, Hamzah B (2011) profesi kependidikan Jakarta : Bumi Aksara

Tentang arassh

i'm a moslem
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s