UNTUKMU PARA AKTIFIS DAWAH

Oleh : Arassh Sidik Fatahillah

Tidak banyak masyarakat yang mau melibatkan dirinya dalam dunia dawah. Sehingga saya berfikir bahwa dawah merupakan pekerjaan manusia “elit” dalam tangga pola pikir manusia. Karena sesuatu yang langka biasanya merupakan hal yang berharga dan memiliki nilai tinggi, begitupun “dunia dawah”.

Orang yang memilih jalan menjadi aktifis dawah bukan orang yang “aktif milarian acis” dengan dawah. Tapi orang yang benar-benar aktif melakukan segala aktifitas untuk terwujudnya cita-cita dawah islam. Orang yang rela lebih mengedepankan kepentingan al-islam dibanding kepentingan dirinya. Orang yang rela mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya. Orang yang rela mengorbankan segala yang dimilikinya untuk kemanfaatan umat. Sehingga layak disebut manusia terbaik “khairunnas anfauhum linnas”.

Namun segala bentuk nilai sebagaimana dijelaskan akan hilang kala motivasi dan tujuan bukan semata-mata lurus lillahi ta’ala. Sehingga pantas jika dihari perhitungan nanti Alloh SWT akan menyuruh orang-orang yang tidak ikhlas untuk meminta pahala pada apa yang dijadikan motivasinya. Karenanya syarat yang harus dimiliki bagi para aktifis adalah motivasi yang lurus hanya ingin mendapat ridho-Nya semata. Semoga para aktifis-aktifis dawah yang sampai hari ini masih istiqomah menetapkan diri untuk tetap berdakwah, memiliki hati yang lurus, ikhlas, suci murni hanya ingin mendapat ridho Alloh SWT.

Menjadi Aktifis dawah bukan berarti hidup tenang tanpa “godaan”, justru jalan ini merupakan jalan yang penuh dengan berbagai macam trik setan. Seperti halnya dalam dunia pendidikan, semakin seseorang meningkat kelas semakin meningkat pula grade kesusahan soal yang diujikan. Begitupun godaan yang akan menimpa para aktifis akan semakin kuat, banyak dan yang pasti semakin “halus penuh dengan tipu daya”. Ragam jenis godaan tidak akan jauh dari “harta, tahta dan wanita(lawan jenis/nafsu syahwat)”, yang dikemas dengan packaging yang mewah dan indah.

Tidak jarang yang dulunya aktifis dawah yang kini hidup bergelimang harta dan dirinya terpenjara dengan harta. Semakin gila terhadap harta semakin gelap hati, semakin cinta dunia semakin lemah semangat pembelaan terhadap islam. Semakin cinta dunia semakin tumpul hati memilih jalan kebenaran. Tiada kebijaksanaan, tiada kemurahan yang ada kedzoliman dan keserakahan. Hal ini karena harta telah menguasainya, sehingga mata hati mati tak mampu melihat kebenaran.

Aktifis yang tergoda tahta, kekuasaan, jabatan atau kedudukan. Mungkin niat awal supaya gerak dawah lebih mudah maka harus menduduki posisi ini dan itu. Namun dalam perjalanan tergelincir atau keluar dari prinsif perjuangan yang dipolakan Rosululloh maka jabatan menjadikan dirinya hina dihadapan Alloh. Pada akhirnya tiada kemuliaan, tiada kemudahan yang ada kehinaan dan keterjebakan yang memberi jalan pada syaitan untuk semakin menjerumuskanya pada kesesatan. Yang dimaksud Tahta mungkin bisa jadi adalah kedudukan yang dinginkan dalam kelompoknya. Tiap-tiap orang berebut posisi jabatan, sehingga pikiran dan hati bukan memikirkan umat melainkan bagaiman cara untuk mendapat posisi menjadi pemimpin umat.

Godaan terakhir adalah Aktifis yang tergoda wanita. Tak jarang yang gelap hati karena wanita. Alih-alih pembenaran mencontoh rosululloh, padahal tak pantas membawa-bawa nama rosululloh. Godaan wanita /lawan jenis mungkin bagi aktifis dawah bukan wanita-wanita penghibur bisa jadi adalah lawan jenis dilingkungan kelompoknya yang terkesan soleh-solehah. Namun panah-panah setan itu tak pernah pandang bulu, siapapun bisa terperangkap. Karena itu bagi para aktifis dawah jagalah segala indera dan hati agar tak terkena panah asmara setan.

Wahai para aktifis dawah yang saya cintai…..

Permasalahan yang sering saya cermati ketika kita bertemu dengan kelompok berbeda. Pada umumnya disana kebijaksanaan kita diuji. Kadang terasa takut kalah, merasa terancam eksistensi oleh kelompok lain. Sehingga membuat kebenaran untuk mencari kesalahan. Etika berdakwah ditinggalkan, sehingga desas-desus lah yang kita buat, sehingga menimbulkan keresahan dikalangan masyarakat.

Bukannya ketenangan yang tercipta malah timbul rasa saling curiga, umat yang berfikir “kabur” merasa jenuh dengan kondisi saling berebut pengaruh. Orang awam berubah orientasi karena hati mereka tak terjaga, terpengaruh oleh serangan yang bertubi-tubi. Sedangkan para penyuluh dan pengurus islam sedang bergulat berebut pengaruh, membuat desas-desus. Bukannya perkokoh masyarakat malah sibuk membuat isu aliran A,B,C,D. sehingga masyarakat yang awam berubah jadi hakim, padahal tak tahu apa itu benar dan salah. Karena itu wahai para aktifis jangan saling menghujat karena adanya perbedaan. Jangan lupa bahwa kita harus mengajak dengan “hikmah” dan mendebatnya dengan cara “ahsan”. Bagaimanapun besar jurang perbedaan itu tak sepantasnya kita saling menghujat, banyak cara yang lebih elegan untuk menunjukan kebenaran. Karena tugas kita adalah menyampaikan, menunjukan dan mengajak kepada kebenaran, bukan untuk memaksa pada jalan yang kita yakini.

Bacalah QS Al Hujurat ayat 10-12 , sekiranya kita semua memiliki keimanan maka ayat ini cukup bagi kita untuk tidak menghakimi, menghujat dan membuat desas desus tentang sebuah kelompok. Karena bisa jadi mereka yang kita katakan itu lebih baik dari kita yang mengatakan. Tak pantas kita mengatakan stempel “kafir, sesat, bid’ah, aliran menyimpang” atau stempel-stempel lainnya kalau tidak ada tindakan nyata menyadarkan dengan cara baik. Kita mengatakan stempel buruk tanpa upaya kita untuk menunjukan kebenaran ibarat kita menghancurkan rumah tapi tak kita bangun kembali.

Pembuat isu itu ibarat yang melempar api pada ranting yang kering, maka yang terjadi adalah kebakaran yang tak terkendali. Maukah islam hancur gara-gara isu-isu yang dibuat Kita? Naudzubillah ….. karena itu mari kita perbaiki cara berdawah kita, tingkatkan kapasitas, dan tentunya tingkatkan keimanan dan ketaqwaan, serta mari kita bersama-sama pastabikhul khairrat dalam beribadah kepada-Nya.

Tentang arassh

i'm a moslem
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Pembinaan Diri. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s