SELAMAT TAHUN BARU 1435 H

Hampir tiap agama memiliki tahun baru masing-masing, hindu dengan saka, konghucu dan budha dengan imlek, kristen(katolik/protestan) dengan masehi, islam dengan hijriah dan lain lain. Masing-masing agama memiliki sejarah tentang tahun baru yang menjiwai agamanya. Setiap perayaan adalah bukti pengakuan, pembenaran akan sejarah yang dikandung didalamnya. Hal ini menjadi semangat bagi penganut agamanya masing-masing.

Umat muslim disadari lebih familiar dengan tahun baru masehi ketimbang tahun barunya sendiri, lebih interes dengan tahun baru masehi ketimbang tahun barunya sendiri. seandainya dalam kalender masehi tidak ditandai dengan warna merah, atau kerja, sekolah, Kuliah tidak libur mungkin sebagian besar umat muslim akan lupa, atau tidak tahu dengan tahun baru islam.

Penyikapan kita berbeda menghadapi tahun baru, hal ini terlihat ketika mau memasuki tahun baru islam. Pembicaraan tentang tahun baru islam tidak seramai pembicaraan tahun baru masehi, seolah sebuah momen yang biasa-biasa saja, tidak berarti, dan tidak penting. Adapun dalam media TV atau media sosialpun hanya ucapan dengan frekuensi yang rendah, tidak ada hal-hal yang bisa membekas kepada umat islam. Pantas saja tidak ada yang membekas pada umat islam, karena lingkungannya yang seolah tidak mementingkan tahun baru islam. Miris di negeri yang mayoritas islam, perayaan tahun barunya tidak mendapat perhatian yang berarti.

Sejarah tahun baru hijriah

Diawal penentuan awal tahun baru hijriah sempat muncul berbagai pendapat, di antaranya:

1) Dihitung dari kelahiran Rasulullah.

2) Dihitung dari tahun wafat beliau.

3) Dihitung dari hijrahnya beliau.

4) Dihitung sejak kerasulan beliau.

5) perang Badar.

6)Perjanjian Hudaibiyah. dan

7) Fathu Mekkah.

Berbagai pendapat itu kemudian disimpulkan dan diputuskan oleh Amirul Mukminin pada waktu itu yakni umar bin khatab, bahwa dimulainya perhitungan tahun Islami adalah dari hijrahnya Rasulullah SAW karena sejak disyariatkannya hijrah, Allah Ta`ala memilah antara yang haq dan yang bathil. Pada waktu itu pula awal pendirian negara Islam.”( http://www.islampos.com)

Setelah didapat awal tahun, perdebatan berikutnyanya adalah bulan pertama dalam tahun hijriah, Berbagai pendapat lalu dilontarkan, ada yang usul Rabi’ul Awwal karena di waktu itu dimulai perintah hijrah dari Makkah ke Madinah. Usul lain memilih bulan Ramadlan karena di bulan itu diturunkannya Al-Qur’ân.

Perdebatan kemudian berakhir setelah sebagian besar dari kalangan shahabat seperti Umar, Utsman dan Ali radliyallahu `anhum `ajma`in sepakat bahwa tahun baru Islami dimulai dari bulan Muharram. Kenapa?

Alasannya pada bulan itu banyak hal-hal atau aktifitas yang diharamkan di antaranya tidak boleh mengadakan peperangan. Kecuali dalam keadaan diserang maka diperbolehkan melawannya.

Sebagaimana firman Allah: “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan;

dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah:191)

Mengapa dikatakan Muharram sebagai bulan haram? Didasarkan pada ayat lain dimana Allah juga berfirman: “Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishash.

Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah berserta orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 194)

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah,

Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.”

Bulan-bulan tersebut disebut bulan haram, menurut Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah karena dua makna:

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan,

”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (http://www.islampos.com)

Nama-nama bulan Dalam kalender hijriah

adapun nama-nama bulan dalam kalender hijriah adalah sebagai berikut :

No Penanggalan Islam Lama Hari
1 Muharram 30
2 Safar 29
3 Rabiul awal 30
4 Rabiul akhir 29
5 Jumadil awal 30
6 Jumadil akhir 29
7 Rajab 30
8 Sya’ban 29
9 Ramadhan 30
10 Syawal 29
11 Dzulkaidah 30
12 Dzulhijjah 29/(30)
Total 354/(355)

 Sumber: (Wikipedia)

Dari pebahasan tersebut maka tergambar bagi muslim ketika masuk tahun baru yakni upaya pemanaan untuk menjaga diri dari hal-hal yang dibenci alloh, banyak intropeksi diri, memperbanyak ibadah, dan mulai merencanakan apa yang mau dilakukan dimasa mendatang. Semuanya itu didasari semangat sebagai seorang muslim yang memiliki pondasi tauhid. Hal ini akan terwujud ketika semua elemen mendukung mengarahkan masyarakat untuk memanai hal itu. Tapi kenyataan bagaimanamungkin ini terjadi jika setiap kali masuk tahun baru hijriah seolah momen yang berlalu begitu saja, tanpa makna tanpa apa-apa.

Ini hanya sebuah perenungan seorang masyarakat muslim, yang saya kira, apa yang saya rasakan dirasakan pula oleh muslim-muslim lain yang berpikir.  Walaupun negeri ini demikian namun saya yakin masih ada harapan di negeri ini.

Akhirul kalam saya ucapkan

” SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1435 H”

Tentang arassh

i'm a moslem
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s