PROPHETICS PARADIGM; an Introduction

Oleh: Iskandar Gunadiwidjaya, S.Sos*

iskandarDAKWAH PROFETIK : Sebuah Upaya Membangun Paradigma Islam menuju Interpretasi Praxis
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” 3:110
“Sebagai sebuah ideologi sosial, Islam juga menderivasi teori-teori sosialnya sesuai dengan paradigmanya untuk transformasi sosial menuju tatanan masyarakat yang sesuai dengan cita-citanya. Oleh karena itu menjadi sangat jelas bahwa Islam sangat berkepentingan pada realitas sosial, bukan hanya untuk dipahami, tapi juga diubah dan dikendalikan. Tidaklah islami misalnya, jika kaum muslim bersikap tidak acuh terhadap kondisi struktural masyarakatnya, sementara tahu bahwa kondisi tersebut bersifat munkar. Sikap etis seperti ini mungkin akan menghasilkan bias dalam paradigma teori sosial Islam, tapi itu sah saja adanya, sebagaimana teori-teori sosial lainnya juga mengidap bias normatif, ideologis, dan filosofisnya sendiri”.
I. Kuntowijoyo Sebagai Pencetus Ide Awal
Almarhum DR. Kuntowijoyo adalah seorang mantan Guru Besar Ilmu Sejarah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Beliau adalah seorang akademisi yang telah memproduksi berbagai karya tulis ilmiah akademis maupun non akademis. Beberapa kalangan intelektual mengenal beliau sebagai seorang Intelektual Profetis, namun bagi kalangan yang lebih luas, beliau dikenal sebagai seorang sastrawan yang banyak memproduksi karya sastra dengan genre yang khas. Sebagai sejarawan, DR. Kuntowijoyo mengenal baik masyarakat Indonesia dan sejarah sosial budaya bangsa Indonesia. Karya-karya sastranya memiliki kekhasan lokalistik yang kuat sebagai wong jowo. Sebagai seorang intelektual Muslim, DR. Kuntowijoyo merupakan salah seorang anggota organisasi massa Islam, Muhammadiyah, seorang anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), dan seorang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Karya-karya ilmiah dari Kuntowijoyo sarat dengan nuansa transendental Islam.
Pada tanggal 2 Nopember 2002 bertempat di Ruang Sidang A lantai 5 Gedung Pasca Sarjana UGM diselenggarakan sebuah sarasehan yang bertajuk SARASEHAN ILMU-ILMU PROFETIK. Dalam sarasehan tersebut berkumpul sekitar 5 ilmuwan dengan spesifikasi keilmuan yang berbeda, dan mengajukan berbagai usulan dalam hal keilmuan Profetik. Dalam bidang Ilmu Humaniora diwakili Kuntowijoyo, bidang MIPA dan Tekhnik diwakili Kamsul Abraha, bidang Ilmu Sosial diwakili Sunyoto Usman, bidang Ilmu Pertanian dan Kehutanan diwakili Hasanu Simon, dan bidang Ilmu Kesehatan diwakili Umar Anggara Jenie. Sarasehan ini diorganisir oleh sebuah kelompok kerja (Pokja) yang terdiri dari anggota dan alumni Jamaah Shalahuddin UGM, dan diketuai oleh Yulianto, S.T. Sarasehan ini merupakan satu diantara berbagai agenda para penganjur Ilmu-ilmu Profetik untuk menjadikan Islam sebagai sebuah paradigma keilmuan yang memiliki bobot akademis tersendiri. Bahkan dalam sarasehan tersebut diusulkan untuk membentuk sebuah Pusat Studi Ilmu-ilmu Profetik di UGM. Walaupun dikarenakan kondisi kesehatannya Kuntowijoyo tidak dapat hadir, namun beliau mengajukan sebuah makalah; MENUJU ILMU SOSIAL PROFETIK. Makalah ini pernah dimuat di harian Republika selama 3 hari berturut-turut pada tangga 7-9 Agustus 1997.
Sebenarnya Kuntowijoyo dengan Ilmu Profetiknya bukanlah merupakan satu-satunya aktivis gerakan intelektual Islam dalam upayanya membangun paradigma Islam yang memiliki bobot akademis. Sebelumnya ada Muslim Abdurrahman yang mengusung “Islam Transformatif”. Atau Hassan Hanafi dengan “Oksidentalisme”-nya. Bahkan gerakan yang memiliki skala internasional adalah “Islamization of Knowledge”-nya Ismail Raji Al-Faruqi yang dilembagakan dalam International Institute of Islamic Thought (IIIT). Tapi Kuntowijoyo dengan Ilmu Profetiknya dapat dianggap merepresentasikan sebuah ide original yang lokalistik dan mencoba masuk ke wilayah akademik universitas-universitas di Indonesia. Bahkan Kuntowijoyo mengusulkan agar dibangunnya sebuah epistimologi Islam khas Indonesia.
“… yang kita butuhkan sekarang adalah ilmu-ilmu sosial profetik, yaitu yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial tapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa, dan oleh siapa. Oleh karena itulah ilmu sosial profetik tidak sekedar mengubah demi perubahan, tapi mengubah berdasarkan cita-cita etik dan profetik tertentu. Dalam pengertian ini maka Ilmu Sosial Profetik secara sengaja memuat kandungan nilai dari cita-cita perubahan yang diidamkan masyarakatnya. Bagi kita itu berarti perubahan didasarkan pada cita-cita humanisasi / emansipasi, liberasi, dan transendensi, suatu cita-cita profetik yang diderivasi dari misi historis Islam sebagaimana terkandung dalam ayat 110 surat Ali Imran: “Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran (kejahatan), dan beriman kepada Allah”. Tiga muatan inilah yang mengkarakterisasikan ilmu sosial profetik. Dengan kandungan nilai-nilai humanisasi/emansipasi, liberasi, dan transendensi, ilmu sosial profetik diarahkan untuk rekayasa masyarakat menuju sosio-etiknya di masa depan”.
Secara substansial kata “Profetik” dipakai sebagai katagori etis yang mengarah pada kesadaran para nabi (prophet) yang terlibat dalam sejarah 1) memanusiakan manusia, 2) membebaskan manusia, dan 3) membawa manusia berjalan menuju Tuhan. Dengan kata lain, upaya profetik mencoba menyatukan wahyu Tuhan dengan temuan pikiran manusia. Upaya para nabi untuk memanusiakan manusia kemudian disebut humanisme/emansipasi, membebaskan manusia disebut liberasi, dan membawa manusia berjalan menuju Tuhan disebut transendensi. Kronologi kemunculan ide ilmu Profetik ini, oleh Kuntowijoyo dihubungkan dengan kemunculan mitos dalam filsafat ilmu yang diikuti oleh kemunculan logos, yang kemudian bermuara pada positivisme. Ilmu Profetik berdiri sebagai kritik terhadap positivisme dalam filsafat ilmu pengetahuan.
A. Humanisme Emansipatif
Humanisme emansipatif adalah definisi teoritis dari ‘Amr Ma’ruf yang diterjemahkan secara operasional; memanusiakan manusia. Para penganjur Ilmu Profetik sepakat bahwa positivisme yang memenuhi ruang akademis, terutama di Indonesia, sebenarnya harus mengalami revisi karena tidak lagi dapat mewakili kemanusiaan, atau Humanisme, dan kebutuhan manusia terhadap eksistensinya dalam interaksi sosial, atau Emansipasi. Kuntowijoyo mendefinisikan emansipasi berdasar kata “emancipatus” (‘e’ = keluar, ‘mancipare’ = mengangkat) yang berarti pengusungan dan pengangkatan ide, merdeka dari hambatan, yakni menunjuk pada sesuatu yang memiliki signifikansi sosial. Istilah ‘emansipasi’ atau ‘emancipation’ pertama kali diperkenalkan oleh para pengusung Paradigma Kritik yang terkenal sebagai “Mahzab Frankfurt”, mereka adalah para teoritisi aliran kiri baru yang anti positivisme dan melakukan revisi paradigmatik terhadap paradigma marxis ortodok. Filsafat kritis merupakan salah satu aliran utama filsafat abad ke-20, disamping fenomenologi dan filsafat analitik. Filsafat kritis mendapat inspirasinya dari kritik ideologi yang dikembangkan Karl Marx sewaktu ia masih muda, dalam tahap pemikirannya yang sering disebut Hegelian Muda. Tokoh-tokohnya adalah Max Horkheimer dan Theodor W Adorno bersama rekan-rekan mereka yang pernah bekerja pada Institut Penelitian Sosial Universitas Frankfurt, karena itu disebut Mahzab Frankfurt.
Habermas, salah seorang Mahzab Frankfurt, dalam teorinya; Theory of Communicative Action menjelaskan bahwa emansipasi adalah keterlibatan aktor dalam suatu proses bersama. Habermas mendefinisikan keterlibatan emansipatif sebagai keterlibatan yang berada di wilayah kepentingan seorang aktor komunikasi. Kepentingan yang dimaksud adalah kepentingan Real Interests. Real interests adalah kepentingan rasional yang bebas dari hegemoni asumsi pihak lain. Posisi rasio dalam proses emansipatif berdiri secara bebas. Dalam posisi bebasnya tersebut rasio tetap berjalan dialektis, maksudnya memiliki latar historis terbentuknya ide dalam rasio dari hasil interaksi rasio tersebut dengan ide-ide sebelumnya. Paradigma kritis dan teori kritis Habermas menyuguhkan gambaran definitif tentang emansipasi. Syarat-syarat emansipatif yang disuguhkan merupakan syarat yang memenuhi hampir segala tuntutan teoritis. Teori Kritis memiliki 4 karakter ; pertama, teori kritis bersifat historis, diperkembangkan berdasarkan situasi masyarakat yang konkret dan berpijak diatasnya. Kedua, teori kritis bersifat kritis terhadap dirinya sendiri. Ketiga, secara dialektis, teori kritis memiliki kecurigaan kritis terhadap masyarakat aktual. Dan keempat, teori kritis merupakan teori dengan maksud praxis, teori kritis merupakan komitmen praxis sang pemikir kritis di dalam prosesi sejarahnya, karenanya teori kritis menjadi tidak netral, atau tidak bebas nilai.
“The Frankfurt account of the essential distinguishing features of the ‘critical theory’ consists of three theses:
1. Critical theories have special standing as guides for human action in that; a) they are aimed at producing enlightenment in the agents who hold them, i.e. at enabling those agents to determine what their true interests are. b) They are inherently emancipatory, i.e. they free agents from a kind of coercion, which is at least partly self-imposed, from self-frustration of conscious human action.
2. Critical theories have cognitive content, i.e. they are forms of knowledge.
3. Critical theories differ epistemologically in essential ways from theories in the natural sciences. Theories in natural sciences are ‘objectifying’, critical theories are ‘reflective’.
A critical theory, then, is a reflective theory, which gives agents a kind of knowledge inherently productive or enlightenment and emancipation”.
B. Liberasi
Liberasi adalah definisi teoritis dari Nahiy Mungkar yang diterjemahkan secara operasional; membebaskan manusia dari perbudakan. Kalau merujuk pada paradigma kritis Habermas, liberasi manusia terkait dengan sebuah transendensi subyektif manusia berdasar real interestsnya. Liberasi berarti membebaskan real interests seseorang dari false consciousness atau kekeliruan kesadaran. Kesadaran yang keliru yang dimaksud adalah kesadaran yang masih diselimuti oleh ‘selubung ideologi’ yang terbentuk dalam rasio manusia secara tidak benar karena dipaksakan oleh keadaan eksternal yang masih hegemonik. Karena belum terciptanya komunikasi bebas penguasaan, maka dialog yang terjadi tidak emansipatif, karenanya individu tidak dalam keadaan bebas secara rasional.
Manusia Muslim dipandang sebagai makhluk yang secara fitrah terbebas dari perhambaan kepada selain Allah SWT. Terbebas dari segala hegemoni yang palsu selain satu-satunya hegemoni yang paling nyata yaitu dari Sang Pencipta. Dengan membebaskan diri dari pengaruh unsur-unsur hegemonik selain Sang Pencipta, yakni hal-hal keduniaan; kekayaan material, kekuasaan, reputasi, dan terutama dirinya sendiri, manusia Muslim menempatkan kebebasannya sebagai kebutuhan paling mendasar yang dijadikan rumusan liberasinya. Dengan demikian manusia Muslim berkepentingan terhadap lingkungan sosial yang kondusif bagi kebebasan dirinya.
“bahwa Islam memiliki dinamika-dalam untuk timbulnya desakan pada adanya transformasi sosial secara terus menerus, ternyata berakar juga pada misi ideologisnya, yakni cita-cita untuk menegakkan Amr ma’ruf dan Nahiy munkar dalam masyarakat di dalam kerangka keimanan kepada Tuhan. Sementara Amr ma’ruf berarti humanisme dan emansipasi, Nahiy munkar merupakan upaya untuk liberasi. Dan karena kedua tugas itu berada dalam kerangka keimanan, maka humanisasi dan liberasi merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan dari transendensi. Di setiap masyarakat, dengan struktur dan sistem apa pun, dan dalam tahap historis yang mana pun, cita-cita untuk humanisasi, emansipasi, liberasi, dan transendensi akan selalu memotivasi gerakan transformasi Islam. Cita-cita ini pula lah yang akan menjadi tema transformasi Islam, suatu tema yang dipenuhi dengan pandangan profetik tertentu mengenai perubahan. Bahwa cita-cita ini akan mengkarakterisasikan paradigma Islam mengenai trasformasi sosial, itu sudah menjadi jelas dengan sendirinya”.
C. Transendensi
Transendensi adalah definisi teoritis dari Yu’minuna biLlah yang diterjemahkan secara operasional; membawa manusia menuju Tuhannya. Para penganjur ilmu-ilmu Profetik menekankan posisi penting transendensi setelah humanisme emansipatif dan liberasi. Transendensi subyektif dalam liberasi harus mengalami proses aktualisasi dalam wilayah praxis menuju transendensi obyektif. Secara tegas, para penganjur ilmu-ilmu Profetik menempatkan ‘Islam sebagai ideologi’ adalah merupakan sesuatu yang secara seragam menjadi muatan transendensi subyektif-obyektif setiap manusia Muslim yang melatari transformasi sosial Islam. Dengan posisi keyakinan Islam yang kental dalam cita-cita transformasi sosial yang dirancang oleh setiap manusia Muslim, maka agenda mendamaikan pertentangan diametris antara sains dan agama, merupakan agenda yang mengarah pada sebuah upaya pembangunan paradigma baru ilmu-ilmu integralistik . Transformasi sosial yang dikerangkai humanisme emansipatif, liberasi, dan transendensi, mensyaratkan adanya hubungan sains dan agama yang tanpa pertentangan. Transendensi subyektif yang berada di wilayah rasio kesadaran personal dimaknai sebagai kepentingan real interests yang melatari pilihan-pilihan emansipatif manusia Muslim di wilayah sosialnya dan melatari aksi sosial (social actions) dalam interaksi manusia Muslim tadi dalam lingkungan praxis sosial masyarakatnya dan membentuk rumusan kesadaran transendental obyektifnya tentang dunia (worldviews).
“When we describe behavior as teleological action, we suppose that the agent makes certain ontological presuppositions that he reckons with an objective world in which he can know something and in which he can purposefully intervene”.
Upaya rekonstruksi sosial yang melibatkan manusia Muslim dalam intervensinya di wilayah sosial masyarakatnya, secara umum, disebut sebagai Dakwah. Sumber-sumber Islam menyebutkan Dakwah Islam sebagai Amr ma’ruf dan Nahiy munkar yang didefinisikan ulang oleh Paradigma Profetik menjadi proses-proses Humanisasi, Emansipasi, Liberasi, dan Transendensi. Dakwah Islam merupakan sebuah gerakan transformasi sosial yang melibatkan ideologi Islam dalam kehidupan kemasyarakatan manusia Muslim. Dakwah Islam dikerangkai oleh keyakinan setiap manusia Muslim terhadap Tuhannya. Konsep Islam menegaskan bahwa manusia Muslim diciptakan Tuhan di muka bumi dengan membawa misi transendental yakni Ibadah. Kata Muslim sendiri dimaknai sebagai keadaan berserah diri manusia pada Tuhannya. Konsepsi ideologi Islam merumuskan berbagai aturan-aturan etis-profetis dalam kehidupan setiap manusia Muslim. Dengan pemahaman liberasi-transendentifnya, manusia Muslim berkepentingan terhadap lingkungan sosial dimana dia berada, yang perlu dikondisikan sedemikian rupa sehingga kondusif bagi kemanusiaan manusianya. Kepentingan manusia Muslim inilah yang memotivasi cita-cita transformasi sosial Islam yang dilakukan oleh setiap manusia Muslim, dalam rangka membangun sebuah tatanan sosial masa depan yang menjungjung tinggi Humanisme Emansipatif menuju Liberasi Transendentifnya.
II. Lima Program Reinterpretasi Praxis Paradigma Profetik
“Untuk memerankan kembali misi rasional dan empiris Islam, kita memiliki beberapa program pembaruan pemikiran untuk reaktualisasi Islam yang dapat dilaksanakan pada saat ini. Program pertama adalah perlunya dikembangkan penafsiran sosial struktural lebih daripada penafsiran individual ketika memahami ketentuan-ketentuan tertentu di dalam Al-Qur’an. Program kedua adalah mengubah cara berpikir subyektif ke cara berpikir obyektif. Program ketiga adalah mengubah Islam yang normatif menjadi teoritis. Program keempat adalah mengubah pemahaman yang ahistoris menjadi historis. Dan program yang terakhir adalah bagaimana merumuskan formulasi-formulasi wahyu yang bersifat umum (general) menjadi formulasi-formulasi yang bersifat spesifik dan empiris”.
1. Penafsiran Al-Qur’an berdasarkan analisa Kepentingan Praxis
Dengan adanya pemisahan sains dan agama yang diberlakukan sejak renaissance, kepentingan pengetahuan ilmiah dan kepentingan praxis seolah dipisahkan oleh pagar filsafat ilmu positivistik. Jargon positivistik yang terkenal adalah “ilmu pengetahuan harus bebas nilai dan bebas kepentingan (value free)”. Perlu disadari bahwa diluar wilayah ilmiah akademis, manusia dan kemanusiaannya dilingkupi oleh wilayah realitas yang sarat kepentingan praxis. Dengan rambu-rambu positivistik, manusia dan kesadarannya seolah dikapling-kapling dalam ruang kotak-kotak yang parsial. Jika ingin mempelajari ilmu agama maka harus masuk ke fakultas agama yang memiliki batasan filsafat ilmu agama. Jika ingin mempelajari matematika dan sains maka harus masuk ke fakultas sains yang memiliki batasan filsafat ilmu sains. Jika ingin mempelajari sosiologi dan politik maka harus masuk ke fakultas sosial politik yang memiliki batasan filsafat ilmu humaniora. Masing-masing batasan filsafat ilmu dalam berbagai fakultas tadi memiliki ontologi dan epistemologi tersendiri yang saling berbeda satu sama lain. Dengan ambisi ilmu pengetahuan bebas nilainya, positivisme membangun benteng ilmiah akademis tersendiri yang mengasingkan diri dari realitas praxis yang sarat kepentingan diluarnya. Targetnya jelas, sebuah upaya mengebiri kesadaran transendental, baik transendensi subyektif maupun transendensi obyektif.
“Dengan mengartikan teori sebagai kontemplasi atas cosmos, filsafat telah menarik batas antara ‘ada’ (being) dan ‘waktu’ (time), yaitu antara yang tetap dan yang berubah-ubah. Inilah bibit cara berpikir yang menyebabkan lahirnya ontologi dalam sejarah pemikiran manusia. Filosof berkehendak untuk menerapkan pemahaman konseptual itu pada berbagai situasi. Pemahaman semacam ini dipandang sebagai pengetahuan sejati dan untuk memperoleh pengetahuan itu, teori harus semakin dibersihkan dari unsur-unsur yang berubah-ubah, yakni dorongan-dorongan dan perasaan-perasaan subyektif manusia sendiri (disebut ‘sikap teoritis murni’). ‘Kontemplasi atas cosmos’ kemudian menjadi ‘kontemplasi bebas kepentingan’. Dengan demikian, apa yang kita kenal sekarang dengan nama ontologi, merupakan bentuk pemahaman atas kenyataan yang menghendaki pengetahuan murni yang bebas kepentingan. Pengetahuan yang lahir dari refleksi ontologis adalah suatu ‘disinterested knowledge’. Kelahiran ontologi mengikis habis ‘Bios Theoretikos’, karena teori tidak lagi memperoleh pemenuhan isinya dalam kehidupan, melainkan justru dengan menarik diri dari kehidupan praktis manusia. Tanpa disadari sang pemikir sendiri, pembersihan kepentingan-kepentingan manusiawi ini tak lain dari pelaksanaan kepentingannya sendiri, yaitu pelaksanaan kepentingan untuk menekan kepentingan demi mencapai pengetahuan murni”.
Bios Theoretikos adalah merupakan pengetahuan metodik mengenai kehidupan. Asal mula sumber pengetahuan adalah dari alam dan kehidupan yang tidak parsial, tapi merupakan suatu kenyataan hidup yang dinamis dan integral. Bios Theoretikos adalah metode pengetahuan yang diterapkan oleh para nabi dan rosul utusan Tuhan. Muhammad SAW ketika di gua hira’ melakukan sebuah proses kontemplasi yang merupakan metode dasar dari Bios Theoretikos. Pengetahuan alamiah manusia dalam akalnya ketika mencerap berbagai hal dari lingkungannya sehingga membangun kesadaran tertentu dalam benak berpikirnya adalah menggunakan Bios Theoretikos sebagai metodologi. Dan yang terpenting, wahyu yang terkandung dalam Al-Qur’an seluruhnya hanya mampu dijelaskan secara praxis dengan metode Bios Theoretikos. Bios artinya segala sesuatu perihal kehidupan, theoretikos artinya membangun teorisasi pengetahuan. Bios Theoretikos adalah sebuah metode awal yang paling alamiah dalam metodologi filsafat dan ilmu pengetahuan. Dalam Bios Theoretikos segala kenyataan dalam realitas berikut kepentingan-kepentingan subyektifnya serta nilai norma sosial obyektifnya, merupakan bahan baku pengetahuan dan ajaran kehidupan. Sedangkan dalam ontologi, nilai dan kepentingan harus dibersihkan dari teori. Ontologi menjadikan filsafat ilmu dan teori menjadi positivistik. Dan jeratan positivisme inilah yang membuat Al-Qur’an menjadi sesuatu hal yang sama sekali berada diluar wilayah ilmu pengetahuan dan filsafat, atau terjebak dalam kotak filsafat ilmu fakultas agama Islam. Manusia Muslim dilingkupi hegemoni semu positivistik yang membuat kitab sumber pengetahuan utamanya sendiri dijauhkan dari wilayah kesadaran intelektual manusia Muslim.
Hampir setiap paradigma pengetahuan yang anti-positivisme sepakat bahwa Bios Theoretikos harus dihidupkan kembali sebagai metodologi filsafat ilmu, dan membuang jauh-jauh ontologi. Dalam kepentingan pemurnian pengetahuan dari anasir ontologi dan positivisme ini, paradigma Profetik melibatkan diri dengan misi menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber dari sumber segala teori ilmiah serta menjadikan para Nabi dan Rosul utusan Tuhan sebagai bapak ilmu pengetahuan sejati. Dengan demikian, setiap manusia Muslim bisa leluasa memahami kesejatian ilmu pengetahuan secara langsung dari sumber Wahyu Utamanya yang berisi segala eksplanasi teoritis mengenai manusia dan lingkup kepentingan kehidupan sosial disekitarnya. Konteks sosial masyarakat Islam, yang memiliki struktur sosial dan kepengaturannya sendiri telah terkandung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, diusahakan dapat merupakan bagian yang integral dalam wilayah ilmiah akademis sehingga para guru besar di universitas-universitas biasa terdiri dari para mufasir-mufasir Al-Qur’an, seperti yang terjadi pada masa kejayaan Ilmu Pengetahuan dan Filsafat Islam pada masa pra renaissance yang telah melahirkan cendekiawan Islam sekaliber Ibnu Sina dan Ibnu Kholdun.
“Pemisahan antara pengetahuan dan kepentingan manusiawi yang terwujud dalam pemisahan teori dan praxis, sebagaimana dianut Ilmu Pengetahuan modern, belumlah dikenal di dalam tradisi pemikiran yunani purba. Sebaliknya, di dalam pemikiran kuno itu terjalin pertautan yang erat antara teori dan praxis hidup manusia sehari-hari. Pertautan semacam ini senantiasa mengacu kepada cita-cita etis, seperti kebaikan, kebijaksanaan, atau kehidupan sejati, baik secara individual maupun secara kolektif di dalam polis (negara kota). Dengan teori, manusia memperoleh suatu orientasi untuk bertindak secara tepat sehingga praxis hidupnya dapat merealisasikan kebaikan, kebahagiaan, dan kemerdekaan. Dengan kata lain, di dalam tradisi pemikiran yunani purba, pengetahuan tidak dipisahkan dari kehidupan konkret. Pemahaman mengenai pengetahuan semacam ini tertuang padat dalam istilah Bios Theoretikos. Yang diacu oleh istilah ini bukanlah teori dalam pengertian modern yang merumuskan suatu pengetahuan demi pengetahuan ke dalam kategori-kategori abstrak yang terlepas dari kehidupan konkret. Bios Theoretikos merupakan suatu bentuk kehidupan, suatu ‘jalan’ untuk mengolah dan mendidik jiwa dengan membebaskan manusia dari perbudakan oleh doxa (pendapat) dan dengan jalan itu manusia mencapai otonomi dan kebijaksanaan hidup”.
2. Dari cara berpikir Subyektif ke cara berpikir Obyektif
Albert Einstein pernah menjelaskan konsepsi relativitas ruang dan waktu yang kurang lebih mengungkapkan bahwa setiap entitas dalam analisa menempati ruang dan waktu yang bersifat empat dimensional (X, Y, Z = ruang, plus T = waktu), masing-masing entitas memiliki titik ordinat yang direlatifkan dengan titik ordinat -titik ordinat entitas yang lainnya. Jika setiap entitas dianalisa secara parsial dan subyektif, maka akan terkesan serba relatif dan tidak memiliki batasan yang jelas (absurd). Agar setiap entitas bisa diidentifikasikan posisi batasannya, maka titik ordinat dari entitas tersebut harus direlatifkan dengan sebuah titik ordinat origin (X=Y=Z=T=nol). Dan titik ordinat origin inilah yang sering disebut : TUHAN.
Ketika seorang manusia Muslim masuk ke wilayah ilmiah akademis, intelektualitas dirinya seolah-olah terlepas sama sekali dengan dunia kepentingan praxis disekitarnya. Mekanisme positivistik menghendakinya demikian. Sehingga ideologi Islam yang merupakan kepentingan subyektif dalam rasio transendensi subyektif manusia Muslim, dipaksa oleh hegemoni filsafat ilmu positivistik untuk tidak sama sekali terlibat dalam eksplanasi ilmiah akademisnya. Bahkan, kesadaran transendental manusia Muslim tersebut pada akhirnya terjebak pada sebuah ruang dan waktu yang sama sekali terpisah dengan wilayah ilmiah akademis dan wilayah kesadaran manusia Muslim lainnya disekitar dia. Mahasiswa Muslim yang memiliki aktivitas ideologis dalam organisasi mahasiswa Muslim pun akhirnya terjebak dalam ruang mushola kampus dan mesjid kampus. Ruang mushola dan mesjid kampus merupakan wilayah yang sama sekali diluar wilayah ilmiah akademis universitas. Dalam wilayah ilmiah akademisnya, seorang manusia Muslim menjadi manusia Muslim tanpa Mesjid. Ideologi Islam dan manusia Muslim, dipenjarakan dalam kerangkeng batasan ilmiah akademis oleh filsafat ilmu positivistik dengan ontologinya. Akibat yang terjadi adalah masing-masing idealisme domestik transendentif manusia Muslim berjalan sendiri-sendiri dan bahkan saling menyalahkan satu sama lain. Individualistik adalah produk positivisme yang membuat segala sesuatunya menjadi serba relatif dan absurd, termasuk kebenaran Islam.
Agenda paradigma Profetik untuk memerangi positivisme dan membunuh ontologi sehingga mampu menghidupkan Bios Theoretikos, merupakan agenda membebaskan wilayah kesadaran transendensi subyektif setiap manusia Muslim dari kerangkeng filsafat ilmu positivistik, untuk kemudian membawa kesadaran subyektif manusia Muslim tersebut ke dalam wilayah transendensi obyektif. Di wilayah transendensi obyektif yang hidup dalam alam ilmiah akademis yang terbuka atas semua nilai dan semua kepentingan praxisnya melalui jalan Bios Theoretikos, maka manusia Muslim diajak untuk membangun masyarakat intelektual profetis yang menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang memiliki hak atas hegemoni pengetahuan kebenaran. Manusia Muslim beserta intelektualitasnya diajak untuk membangun pondasi mesjid dalam wilayah ilmiah akademis universitas.
3. Dari Islam Normatif menjadi Islam Teoritis
Ontologi dalam filsafat ilmu pengetahuan merupakan penyebab kemunculan normatifisme Islam. Positivisme menghendaki bahwa ilmu pengetahuan harus bebas nilai dan norma. Agenda pemisahan ilmu pengetahuan dari norma kehidupan melalui ontologi, menempatkan posisi yang tegas dari ilmu pengetahuan sebagai teori murni yang berdiri sendiri dan norma kehidupan berada sama sekali diluar wilayah ilmiah akademis. Transendensi subyektif-obyektif mahasiswa Muslim yang mengandung ideologi Islam, dibersihkan sedemikian rupa oleh ontologi dalam wilayah ilmiah akademis, sehingga berakhir menjadi hanya sebatas norma individulistik dan norma sosial ke’muslim’an seorang manusia Muslim. Dalam situasi positivistik inilah Islam menjadi Normatif.
Agenda paradigma Profetik untuk memerangi positivisme dan membunuh ontologi sehingga mampu menghidupkan Bios Theoretikos, merupakan sebuah ikhtiar untuk membawa kembali norma dan nilai Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an agar masuk ke dalam wilayah ilmiah akademis. Bahkan norma dan nilai Islam ini ditempatkan dalam kedudukan terhormat sebagai sumber kebenaran ilmiah. Dalam kedudukannya sebagai sumber kebenaran ilmiah, norma dan nilai Islam menjadi puncak bangunan paradigma ilmu pengetahuan serta membawahi teori-teori yang melengkapi bangunan paradigma Profetik. Al-Qur’an sebagai Kitab sumber ilmu pengetahuan dan para Nabi dan Rosul utusan Tuhan, menempati tempat tertinggi dalam paradigma Profetik yang akan membimbing manusia Muslim, berikut dengan teorisasi intelektualnya, untuk memahami jati dirinya sebagai Muslim dan memiliki eksistensi intelektualitas dalam wilayah ilmiah akademis. Nilai dan norma Islam merupakan kendali bagi manusia Muslim untuk membebaskan intelektualitasnya sehingga membawa intelektualitas masyarakat intelektual profetik menuju Tuhannya.
“Kalau kita bicara tentang Ilmu-ilmu Profetik khususnya, saya ingin mengingatkan bahwa persoalan ini tidak lepas dari perdebatan tentang science and religion. Albert Einstein menyampaikan bahwa meskipun kelihatannya agama dan science terpisah tapi sesungguhnya ada hubungan dan ketergantungan yang sangat kuat. Dan bahkan pengalaman-pengalaman religi menjadi motif yang sangat kuat dari riset-riset yang dilakukan manusia. George Sarton menyampaikan bahwa persoalan adakah hubungan agama dan science sesungguhnya merupakan fenomena yang sangat fenomenal. Persoalannya bukan persoalan paradigma itu sendiri. Paradigma integrated science and religion secara konsepsional ada dan secara operasional sangat memungkinkan”.
4. Dari pemahaman Ahistoris menjadi pemahaman Historis
“Ketika manusia tidak mampu menjawab fenomena alam, mereka berpikir tentang adanya mitos. Mitos sendiri ternyata tidak mampu menjawab banyak hal yang menjadi pertanyaan manusia, sehingga timbullah logos yang lebih bersifat rasional dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia. Antara mitos dan logos selanjutnya seringkali berbenturan. Masa yang paling dikenal dalam sejarah terjadi di abad pertengahan ketika kekuasaan mitos (dalam bentuk agama kristen) mencapai puncak kejayaannya di eropa, dengan gereja yang mengatur segala sendi kehidupan manusia. Ketika itu ilmu harus menjadi budak bagi agama dan bukan sebaliknya, artinya kebenaran ilmu harus mendukung agama. Keadaan ini kemudian menimbulkan renaissance dimana justru terjadi trauma sejarah dimana ketika agama berkembang ilmu terhambat. Kemudian muncul paham positivisme August Comte. Dimana paradigma tersebut sangat mempengaruhi kehidupan kita. Kemudian positivisme digugat oleh postmodernisme”.
Sebagai paradigma yang anti positivisme, paradigma Profetik dikelompokkan ke dalam aliran postmodernisme. Ada sebuah metode ilmiah dalam wacana postmodernisme yang disebut metode eklektis. Metode eklektis sering disebut-sebut sebagai upaya dekonstruksi keilmuan positivistik. Eklektika merupakan metode yang menanggalkan sama sekali segala tuntutan kronologis metode ilmiah beserta hipotesa-hipotesa dan rumusan-rumusan kesimpulannya. Bahkan ada yang melakukan klaim bahwa dalam postmodernisme dengan metode eklektisnya, tidak diperlukan lagi pembagian disiplin ilmu dan pembagian kategorisasi. Metode eklektika digambarkan sebagai sebuah bersitan-bersitan ingatan memorial yang tanpa perlu dijelaskan kronologis kemunculannya. Dalam eklektika sedikit terkandung anarkisme. Euforia Eklektika hampir mirip dengan euforia renaissance pasca keruntuhan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan. Metode eklektika cenderung membentuk pemahaman ahistoris.
Posisi dominatif mitos pada abad pertengahan sebenarnya menunjukkan kenyataan obyektif yang berjalan secara dialektis. Perkembangan kesadaran manusia dengan latar belakang mitos yang kental dengan misi profetis, secara dialektikal bermuara pada fase mitos abad pertengahan yang bercirikan upaya-upaya rasionalisasi mitos ke dalam kesadaran intelektual manusia. Kemunculan renaissance pada babakan selanjutnya juga merupakan proses dialektis dari perkembangan kesadaran manusia. Filsafat menempati posisi yang determinan dalam kemunculan renaissance. Perkembangan-perkembangan dalam perdebatan filosofis akhirnya bermuara pada kemunculan kesadaran baru yang menempatkan logos sebagai sesuatu yang bangkit memberontak terhadap kemapanan mitos. Hegel menyebutnya sebagai perkembangan kesadaran Eropa. Metode dialektika adalah metode yang dikonsepsikan Hegel berupa bangunan proses kesadaran ideasional yang bermula dari satu tesis yang akan berhadapan dengan anti-tesisnya untuk kemudian menuju sintesis. Metode dialektika berjalan secara kronologik membentuk sintesa-sintesa yang terus diperbaharui. Metode dialektika membentuk pemahaman historis.
5. Dari Wahyu yang bersifat umum menjadi formula spesifik dan empirik
Metode Dialektika Hegel mengandung rumusan ide yang tumbuh berkembang menuju satu ide absolut. Hegel menyebutkan bahwa perkembangan kesadaran manusia yang mengalami proses renaissance merupakan perkembangan kesadaran Eropa yang akan mengantarkan ilmu pengetahuan dan filsafat menuju ide absolut yang tunggal. Maka kemudian munculah berbagai upaya untuk menemukan sesuatu yang menjadi ide absolut. Dalam sains dikenal sebagai upaya perumusan sebuah Theory of Everything. Dalam filsafat dikenal sebagai pencarian Meta-theory.
Keadaannya menjadi terbalik ketika menganalisa perkembangan pemikiran Islam. Di dalam Islam, ide absolut yang disebutkan Hegel diatas sebenarnya sudah ada, yakni Wahyu Al-Qur’an. Ibnu Sina, atau di Eropa dikenal sebagai Avecenna yang diakui sebagai pelopor ilmu biologi dan kedokteran yang karya ilmiahnya menjadi rujukan ilmu pengetahuan modern dan kontemporer, merupakan cendekiawan Islam yang menempatkan wahyu sebagai pedoman analisanya. Demikian halnya dengan Ibnu Kholdun yang terkenal sebagai pelopor filsafat sejarah dan ilmu pengetahuan humaniora. Jika kesadaran Eropa pasca renaissance memasuki babakan baru pencerahan setelah melalui abad kegelapan, Bukankah Islam sebaliknya? Islam Pasca renaissance memasuki abad kegelapan dan kejumudan terutama akibat determinannya filsafat ilmu positivistik dengan ontologinya. Paradigma Profetik mencoba keluar dari kegelapan dan kejumudan Islam dengan memerangi positivisme dan menghancurkan ontologi. Dan mengajak semua pemikir Islam, semua Intelektual Profetik dalam semua bidang keilmuan, untuk bekerjasama merumuskan sebuah bangunan epistemologi Islam yang mampu menerjemahkan wahyu menjadi formula spesifik dan empiris.
III. Kebutuhan akan Sebuah Bangunan Epistemologi
Sudah sejak lama wacana tentang transformasi sosial memenuhi ruang ilmiah akademis terutama dalam kajian humaniora. Dari mulai perdebatan tentang teori-teori modernisme hingga kritik terhadap modernisme. Semua teori senantiasa mencoba menguraikan prinsip-prinsip universal tentang masyarakat ideal masa depan yang lebih baik. Kesemuanya merupakan perdebatan yang memiliki proses dialektikanya masing-masing. Dari sejak klasik, modern, hingga postmodern.
Di wilayah ilmiah akademis, renaissance merupakan babakan penting dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan. Periode ini dikenal sebagai babakan kemenangan sains atas agama. Kemenangan logos atas mitos. Tepatnya sejak akhir abad ke-18, ditandai dengan kemunculan skeptisisme yang dipelopori oleh David Hume (1711-1776 M). Perkembangan selanjutnya terwujud dalam cita-cita zaman pencerahan yang mempergunakan sains sebagai senjata untuk melawan agama yang dipandang sebagai bentuk otoritas yang mengekang kemandirian manusia sebagai makhluk berpikir dan memiliki kehendak bebas. Perkembangan pada masa pencerahan ini membentuk sebuah pemahaman umum dalam dunia akademis yang menempatkan wilayah kajian agama terpisah dengan wilayah kajian sains. Kemunculan berbagai teori perubahan sosial dengan latar renaissance ini menekankan identitas empiris dan bebas kepentingan (value free). Dengan berbagai syarat ilmiah yang positivistik ini, pada akhirnya menempatkan wilayah ilmiah akademis ke dalam posisi yang seolah-olah sedang membangun dunia teori tersendiri tanpa melibatkan kehidupan praxis yang sarat kepentingan diluarnya. Sementara itu di luar wilayah ilmiah akademis, tengah berlangsung sebuah perdebatan politis ideologis tentang perubahan format sosial masyarakat. Ada banyak pemain di wilayah pertarungan ini, dua diantaranya yang terbesar adalah pertarungan ideologis antara kaum liberalis pro kapitalisme versus kaum komunis anti kapitalisme, dan pertarungan ideologis politis antara tiga agama samawi; Islam, Yahudi, dan Nasrani.
Sejak pertengahan abad ke-20, perbincangan mengenai sains dalam hubungannya dengan agama, terutama perihal pemahaman baru dari sejarah sains, merupakan arus baru yang marak diperbincangkan di Eropa. Arus baru ini mencoba mengkaji ulang posisi agama dalam sains dilihat dari prosesi sejarah kemunculan sains itu sendiri. Arus baru ini banyak mengkritik pandangan positivisme yang menekankan identitas empiris terhadap sains dan penempatan sains sebagai bidang kajian yang dibedakan dengan filsafat, yang akhirnya membawa pada penegasan pertentangan diametris sains dan agama. Para ilmuwan dan teoritikus arus baru mencoba untuk mendamaikan pertentangan diametris tersebut dengan kembali melihat perdebatan epistemologis para filosof terdahulu (pra renaissance) yang merupakan ilmuwan yang juga agamawan, untuk kemudian berikhtiar merumuskan suatu paradigma baru yang memadukan sains dan agama. Atau lebih dikenal sebagai paradigma ilmu-ilmu integralistik. Di Indonesia, paradigma baru keterpaduan sains dan agama ini diperkenalkan dengan istilah Paradigma Ilmu-ilmu Profetik. Secara substansial, kata profetik dipakai sebagai kategori etis yang mengarah pada kesadaran para nabi (prophet) yang terlibat dalam sejarah memanusiakan manusia, membebaskan manusia, dan membawa manusia berjalan menuju Tuhan.
Sebelumnya, pertarungan politis ideologis antara kaum liberalis pro kapitalisme versus kaum komunis anti kapitalisme telah terlebih dahulu memanfaatkan mimbar akademis sebagai sarana sosialisasi ide dan doktrin ideologis mereka ke hadapan publik internasional. Bahkan munculnya teori developmentalisme dalam dunia akademis lebih disebabkan oleh kemenangan kaum liberalis pada dua perang dunia. Kemenangan kaum liberalis ini memperkokoh posisi politik mereka dan secara otomatis menguasai media-media publik termasuk media pendidikan. Kedua kubu, liberalis dan komunis tidak melibatkan filsafat pra renaissance sebagai justifikasi ide moral praxis yang mereka klaim. Kondisi ini berbeda dengan pertarungan ideologis politis antara tiga agama samawi; Islam, Yahudi, dan Kristen, yang ide-ide moral praxis mereka tidak dengan mudah masuk ke wilayah ilmiah akademis dikarenakan batasan ilmiah yang diberlakukan sejak renaissance yang secara otomatis menutup lembar perdebatan filsafat pra renaissance. Dan yang menutup lembar perdebatan filsafat pra renaissance ini tidak lain adalah Yahudi melalui konsep positivistik mereka dengan pintu ontologi. Jadi untuk sementara pertarungan tiga agama samawi ini dimenangkan oleh Yahudi yang berhasil menguasai wilayah ilmiah akademis.
Dalam sarasehan ilmu Profetik yang diselenggarakan di ruang sidang A lantai 5 gedung pasca sarjana UGM, para pengusung paradigma Profetik dengan spesifikasi keilmuan berbeda berkumpul untuk memberikan usulan-usulan perihal perkembangan ilmu-ilmu Profetik serta penerapannya dalam dunia akademis. Kegiatan ini merupakan salah satu dari serangkaian agenda ikhtiar sosialisasi ide Paradigma Profetik dalam mimbar akademik. Sarasehan tersebut diselenggarakan dan dihadiri oleh sejumlah mahasiswa Muslim sebagai salah satu bagian terpenting dari civitas akademika UGM. Sebenarnya para pengusung Paradigma Profetik belum memiliki rumusan yang disepakati bersama perihal substansi epistemologi Profetik mereka. Dan sejak DR. Kuntowijoyo meninggal dunia, agenda pengusungan Paradigma Profetik ini seolah ikut terkuburkan bersamaan dengan dikuburkannya jasad pencetus ide awal paradigma profetik ini. Perkembangan selanjutnya yang tercatat adalah sebuah gerakan mahasiswa Muslim yang bermula di Fakultas Ilmu Budaya UGM, yakni fakultas yang sama dimana Kuntowijoyo pernah mengajar, membentuk sebuah forum diskusi ilmu Profetik yang berkembang menjadi Masyarakat Intelektual Profetik Kampus (MIPK-UGM). Pada Ramadhan 1429 H, MIPK-UGM berhasil menyelenggarakan sebuah seminar yang bertempat di gedung University Centre (UC) UGM.

*Penulis adalah alumni Universitas Gadjah Mada, peneliti di Yayasan Parisada Hutama

Tentang arassh

i'm a moslem
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s