CINTA KEPADA ALLOH

Mahabatulloh(cinta kepada alloh) adalah akhlak dasar seorang hijbulloh. Cinta adalah dasar dalam kehidupan manusia, baik itu cinta kepada alloh atau cinta selain kepada alloh. Asas kecintaan adalah dorongan yang kuat dalam diri manusia. Kecintaan pada alloh ini bukan berarti meninggalkan cinta kepada yang lain, melainkan seperti mata air yang menjadikan para mukmin mencintai semua yang alloh kasihi dan menjadikan mukmin bersungguh-sungguh dalam beramal. Cinta kepada alloh dan rosul harus dijadikan yang utama bukan yang kedua.

Didalam Alquran QS.5:54,

Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.

Pemahaman tentang cinta dikalangan umat islam, tidak jarang menjadikan mereka salah dalam melangkah. Kesalahan tersebut tidak terlepas dari peran media yang menggiring masyarakat muslim menjadi tersesat dengan berbagai tayangan yang menyesatkan. Hal ini bisa kita lihat terhadap sebagaian orang tua yang membiarkan anaknya berpacaran(sebelum menikah) padahal tidak ada contoh dalam islam, menganggap hal yang lumrah pacaran padahal itu adalah kemaksiatan. Hal ini karena berawal dari cara pandang masyarakat kita tentang apa itu cinta, dan siapa yang berhak dicintai.

Mencintai apapun, dengan cara yang tidak ada contoh dari Rosululloh Saw, atau tidak dibenarkan oleh islam itu berarti ia telah mencintai selain kepada alloh, maksudnya mencintai sesuatu tanpa bersandar kepada alloh dan rosulnya berarti telah menduakan  alloh.

Dalam alquran QS 2: 165

šdan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

[106] Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.

Bagi seorang muslim, yang sudah menerima islam sepenuhnya maka bagi dirinya apapun yang datang dari alloh adalah final, karena islam itu adalah kepasrahan, puncak tertinggi dari keimanan adalah”saya mendengar dan saya taat”.  Bagi orang yang beriman alloh adalah satu-satunya yang berhak disembah dan merupakan kebahagiaan ketika dirinya mencintai alloh.   Cinta kepada Alloh  itu indah, bahkan itulah keindahan yang paling diinginkan oleh hati dan jiwa manusia. Lebih dari itu, hati manusia tidak mungkin merasa bahagia, tenang dan damai jika hati itu tidak mengenal, mencintai dan menghambakan diri kepada Alloh  semata.

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Tidak ada kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan, dan kebaikan bagi hati manusia kecuali (setelah) dia menjadikan Allah (sebagai) sembahannya satu-satunya, puncak dari tujuannya dan Zat yang paling dicintainya melebihi segala sesuatu (yang ada di dunia ini)”[1].

Dalam alquran QS 8:2

Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

[594] Maksudnya: orang yang sempurna imannya.

[595] Dimaksud dengan disebut nama Allah Ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.

Hadist dari abu dzar berkata:”kekasihku rasululloh SAW menyuruhku melakukan tujuh perkara :mencintai kaum miskin dan mendekat kepada mereka, memandang orang yang dibawahku dan dilarang memandang orang-orang yang diatasku. Menyambung tali silaturahim walaupun kerabat itu berpaling dariku, tidak meminta sesuatu kepada siapapun, mengatakan kebenaran walaupun pahit, menyuruhku agar jangan takut menghadapi celaan pencela dalam membela agama alloh, dan menyuruhku agar memperbanyak laa haula wa la quwwataa illa billahi karena ia berasal dari gudang dibawah “arsy” (HR Ahmad)

Diriwayatkan dari abu said al khudri RA, dia berkata bahwa rosululloh bersabda, janganlah salah satu dari kamu meremehkan dirinya sendiri saat dia melihat urusan Alloh swt yang semestinya dikemukakan, lalu dia diam dan tidak mengemukakannya. Lalu alloh bertanya, “mengapa kamu tidak mengemukakannya?” dia menmenjawab, aku takut kepada manusia lalu alloh berfirman,”akulah yang paling berhaq ditakuti” (HR ahmad)

Cinta itu perlu sebuah pembuktian, bukan sekedar  ucapan. bagaimana mungkin orang yang mengatakan cinta kepada alloh memiliki pandangan sinis pada hukum alloh, bagaimana mungkin orang yang mengatakan cinta kepada alloh memilih-milih perintah alloh, bagaimana orang yang mengatakan cinta kepada alloh, sahadat saja enggan, bagaimana ia mengatakan cinta kepada alloh sholat, puasa dan zakat, infaq dan sodaqoh saja tidak mau, bagaimana mungkin orang mengatakan cinta kepada alloh, diperintah naik haji saja tidak mau, ada gilran mau bukannnya ibadah tapi wisata ke mekah, pamer kekayaan, atau hanya ingin disebut haji saja. bagaimana mungkin orang yang cinta kepada alloh takut mendengar jihad fisabilillah, bagaimana mungkin orang yang cinta kepada alloh mencintai juga kepada selain alloh. cinta itu perlu bukti, bukan sekedar berteori.

Tentang arassh

i'm a moslem
Pos ini dipublikasikan di Pembinaan Diri, Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s