Guru Teladan

cropped-guru-ter1.jpgPada dasarnya perubahan prilaku yang dapat ditunjukan oleh peserta didik dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dimiliki oleh seorang guru. Atau dengan kata lain guru mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku peserta didik. Untuk itulah guru harus dapat menjadi contoh (suri tauladan) bagi peserta didik, karena guru adalah refresentatif dari sekelompok orang pada suatu komunitas atau masyarakat yang diharapkan dapat menjadi teladan, yang dapat digugu dan ditiru.
Keteladanan adalah making something as an example, providing a model yang artinya, menjadikan sesuatu sebagai teladan. Istilah keteladanan banyak diadopsi dari bahasa Arab uswah yang terbentuk dari huruf-huruf “hamzah”, “as-sin”, dan “al-waw”. Secara etimologi, setiap kata bahasa Arab yang terbentuk dari ketiga huruf tersebut memiliki persamaan arti yaitu pengobatan dan perbaikan. Ibn Zakaria dalam Arief (2002) menjelaskan bahwa uswah dapat diartikan dengan qudwah yang merujuk pada makna mengikuti atau yang diikuti.
Keteladanan adalah segala sesuatu yang terkait dengan perkataan, perbuatan, sikap, dan prilaku seseorang yang dapat ditiru atau diteladani oleh pihak lain. Sedangkan guru atau pendidik adalah pemimpin sejati, pembimbing dan pengarah yang bijaksana, pencetak para tokoh danpemimpin umat (Isa, 1994). Jadi, keteladanan guru adalah contoh yang baik dari guru baik yang berhubungan dengan sikap, prilaku, tutur kata, mental, maupun yangterkait dengan akhlak dan dan moral yang patut dijadikan contoh bagi peserta didik. Hal ini penting dimiliki tenaga pendidik untuk dijadikan dasar dalam membangun kembali etika, moral, dan akhlak yang sudah sampai pada tataran yang menyedihkan.
Guru adalah pemimpin opini, sehingga harus memiliki keteladanan yang dapat ditiru dan diikuti oleh kebanyakan pihak lain. Tenaga pendidik merupakan opinion leader dalam lingkungan institusi pendidikan juga memiliki posisi sentral dalam membentuk karakter atau kepribadian peserta didik. Keteladanan dalam diri seorang pendidik berpengaruh pada lingkungan sekitarnya dan dapat memberi warna yang cukup besar pada masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan, keteladanan itu akan mampu mengubah prilaku masyarakat di lingkunganya. Sosok tenaga pendidik seperti guru, atau dosen dengan profesinya melekat di mana saja mereka berada, sehingga kata „‟ guru ‟‟ selalu dipergunakan sebagai identitas, baik ketika melakukan aktivitas yang berkaitan dengan dunia pendidikan, maupun kegiatan di luar ranah pendidikan. Sekalipun demikian, karakteristik dan indikator guru teladan itu masih menjadi sangat dilematis mengingat belum adanya standar baku yang dapatdijadikan landasan dasar untuk membangun keteladanan itu sendiri.
Salah satu karakteristik yang perlu dimiliki oleh guru sehingga dapat diteladanioleh muridnya adalah kerendahan hati (Santoso, 2008). Guru akan memiliki kebribadian yang diidolakan jika berani mengakui kesalahan (jika memang telah terjadi kesalahan)sebagai perwujudan kerendahan hati. Sering terjadi, seorang guru dengan dalil menjaga kewibawaan sering tidak berprilaku rendah hati di hadapan siswa padahal guru tidak menyadari bahwa setiap langkah, tutur kata, cara pandang, dan berbagai respon yang ditampilkan menjadi bahan penilaian dan pembicaraan bagi para siswa.Tentu saja keteladanan buruk mengacaukan pemahaman mereka, yang berujung pada pencitraan konsep diri menjadi kurang baik. Pada prinsipnya, terdapat korelasi positif antara keteladanan guru dan kepribadian siswa, yang oleh Johnson digambarkansebagai “ No matter how brilliant your plan, it won’t work if you don’t set an example ” (bagaimana pun briliannya perencanaan anda, itu tidak akan berjalan jika tidak dibarengi dengan keteladanan). Dengan demikian, guru dipandang sebagai sumberketeladanan karena sikap dan perilaku guru mempunyai implikasi yang luar biasaterhadap siswa (Nuh, 2009)
Lebih jauh Abdullah Nashih Ulwan dalam Dwiastuti (2006) memberikan resep untuk membentuk keteladanan guru dan orang tua dalam membentuk kepribadian anak. Keteladanan orang tua meliputi: kejujuran, amanah, iffah (menjaga diri dariperbuatan yang tidak diridhoi), pemberian kasih sayang, perhatian, menyediakan sekolah yang cocok, dan memilihkan teman bagi anaknya. Sebagai pendidik, orang tua harus menampilkan sifat-sifat tersebut anak dapat memiliki pondasi nilai-nilai yang kokoh sebagai bekal untuk menapaki kehidupan selanjutnya. Sedangkan keteladanan yang perlu dicontohkan guru kepada siswanya mencakup ketakwaan, keikhlasan,keluasan ilmu, sopan-santun, dan tanggung jawab.Berdasarkan pandangan tersebut di atas, keteladanan tenaga pendidik yangharus ditanamkan ke pada peserta didik mencakup integritas, profesionalitas, dan keikhlasan.
1. Integritas
Integritas dalam Kamus Landak (2010) didefinisikan sebagai “wholeness,completeness, entirety, unified “. Keutuhan yang dimaksud adalah keutuhan dalamseluruh aspek hidup, khususnya antara perkataan dan perbuatan. Integritas berarti, “the condition of having no part taken away ” atau ” the character of uncorrupted virtue.” Seringkali kita menggunakan kata integritas, etika, dan moralitas secarabergantian untuk menunjukkan maksud yang sama. Padahal secara sederhana,etika adalah standar tentang mana yang benar dan salah, baik dan jahat. Apa yang kita pikir benar dan baik, itulah etika kita. Sedangkan moralitas adalah tindakan aktual tentanghal yang benar dan salah, baik dan jahat. Jadi, kalau etika ada di level teoretik, makamoralitas ada di level praktik. Integritas sendiri adalah integrasi antara etika danmoralitas. Semakin terintegrasi, semakin tinggi level integritas yang ada (Glorianet,2010: 3). Dengan demikian, integritas dapat menghasilkan sifat keteladanan seperti kejujuran, etika, dan moral.
Kejujuran adalah investasi sosial yang harus dimiliki dan ditulari oleh guru untukmenimbulkan kepercayaan dari murid dan orang tua, masyarakat, dan parastakeholder. Kejujuran adalah mengakui, berkata atau memberikan suatu informasiyang sesuai kenyataan dan kebenaran. Dalam praktek dan penerapannya, secarahukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apayang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bilaberpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidaksesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yangsebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu,mungkir, berbohong, munafik atau lainnya. Oleh karena itu, kejujuran harus menjadisenjata yang paling ampuh bagi guru dalam menjalankan tugas prefesinya sehingganilai-nilai kejujuran itu dapat ditanamkan dalam diri siswa atau peserta didik
Moral dan etika pada hakekatnya merupakan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yangmenurut keyakinan seseorang atau masyarakat dapat diterima dan dilaksanakansecara benar dan layak. Dengan demikian prinsip dan nilai-nilai tersebut berkaitandengan sikap yang benar dan yang salah yang mereka yakini. Etika sendiri sebagaibagian dari falsafah merupakan sistim dari prinsip-prinsip moral termasuk aturan-aturan untuk melaksanakannya (Suryokusumo, 2010). Jadi, integritas yang ditunjukkan olehguru dalam menjalankan tugas berdasarkan profesi keguruannya berupa adalahkejujuran, kepatuhan, etika, dan moral seharusnya mengakar dalam pribadi gurusehingga dapat menjadi idola bagi siswanya.
2. Profesionalitas
Profesional berasal dari kata profesi yang artinya satu bidang pekerjaan yangingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Pengertian profesional adalah pekerjaan ataukegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupanyang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan, yang memenuhi standar, mutuatau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (Undang-undang RepublikIndonesia Nomor 14 Tahun 2005). Berbicara mengenai profesional, pemikiran orang tertuju pada dua hal. Pertama , orang yang menyandang suatu profesi. Orang yang profesional biasanya melakukan pekerjaan sesuai dengan keahliannya dan mengabdikan diri pada pengguna jasa dengan disertai rasa tanggung jawab atas kemampuan profesionalnya itu.
Kedua , kinerja seseorang dalam melakukan pekerjaanyang sesuai dengan profesinya (Saudagar dan Ali Idrus, 2009). Profesi adalah suatu jenis pekerjaan yang berkaitan dengan bidang (keahlian, keterampilan, teknik) tertentu,semakin ahli, maka semakin profesional pekerjaannya. Sedangkan yang dimaksud dengan profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut: (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme, (2) memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia, (3) memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas, (4) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas, (5) memiliki tanggung jawab atas pelaksanaantugas keprofesionalan, (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja, (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secaraberkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat, (8) memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dan (9) memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. Prinsip-prinsip tersebut tercermin dalam setiap cara berpikir,bertindak dan berprilaku baik dalam menjalankan aktivitas pembelajaran di sekolahmaupun setelah berada di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Profesionalisme adalah kemahiran yang dimiliki oleh seorang yang profesional(Princeton, 2009). Dengan kata lain, profesionalisme dipandang sebagai suatu keahlianyang melekat pada diri seseorang dalam melakukan segala bentuk pekerjaan secara profesional. Lebih jauh profesionalisme merupakan proses pemberian pekerjaan yang menjadi profesi untuk mencapai status profesional. Profesionalisasi adalah prosesatau perjalanan waktu yang membuat seseorang atau kelompok orang menjadi profesional. Sedangkan, profesionalitas merupakan sikap para anggota profesi yang benar-benar menguasai profesi yang dimilikinya. Dalam perspektif teori yang berhubungan dengan praktek-praktek pendidikan, konsep professionalism (profesionalisme), professionality (profesionalitas, and professional development (pengembangan professional) sering menjadi kajian menarik untuk didiskusikan.
Pengembangan professional juga dipandang sebagai kegiatan yang berorientasi pada tujuan untuk memperbaiki pembelajaran (Keller, 2003). Pengembangan professional sering digunakan secara sinonimik dengan pengembangan staf dan pengembangan guru yang merujuk pada segala upaya yang dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran yang dilakukan dalam suatu lembaga pendidikan. Jadi, yang dimaksud dengan profesionalisme guru di sini adalah komitmen guru sebagai tenaga pendidik yang memiliki keahlian dalam ilmu kependidikan dan secara terus-menerus meningkatkan kemampuan untuk melalukan tugas-tugas keprofesionalannya. Dengan demikian, guru profesional adalah guru yang memiliki idealisme, komitmen, kualified, kompeten, tanggungjawab, prediktif, analitik, kreatif, dan demokratis. Siswa yang menjadikan guru sebagai idola akan berusaha untuk mencontohi dan meneladani sifat-sifat professional ini dalam bertindak dan bertutur.
3. Keikhlasan
Nampaknya integritas dan profesionalitas saja belum dapat membangunpersonalitas tenaga pendidik yang patut dijadikan contoh bagi peserta didik, tetapiharus melibatkan keikhlasan yang terlahir dari hati yang bersih dan akhlak yang terpuji.Keikhlasan adalah suatu kondisi jiwa yang termotivasi secara intrinsik untuk melakukansuatu perbuatan atas dasar penyerahan diri ke pada sang pencipta, bukan karenamotivasi ekstrinsik ingin dilihat dan didengar, mendapatkan pujian serta kedudukanyang tinggi dari orang lain.
Tanesia dan Daniel (2010) dan Santoso (2010) menjelaskan tentang hakekat ikhlas yang menghasilkan berbagai manfaat dalam menjalankan tugas. Pertama ,keikhlasan dapat menjernihkan pikiran seseorang untuk berbuat demi untukkemaslahatan umum, berpikir jauh ke depan, dan tidak berpikir primordial. Segalaperbuatan, perkataan, dan perasanaan secara totalitas dipersembahkan kepadakeridhaan sang pencipta. Kedua , terhindar dari keinginan dan perbuatan buruk yang tidak mendatangkan manfaat. Pengorbanan waktu, tenaga, dan harta hanya untuktujuan mendatangkan kebaikan bagi semua orang. Ketiga , segala kontribusi yangdiberikan bukan untuk ditukarkan dengan segala sesuatu yang berbentuk materi,melainkan bernuansa sosial. Keempat , mengembangkan silaturahim antara sesamamanusia. Seorang guru dalam melaksanakan profesinya, seharusnya mengintegrasikankeikhlasan ini dalam mengiringi setiap aktivitas pembelajaran sehingga menjadi modalsocial yang perlu diteladani oleh peserta didik.Sebagai kesimpulan, keteladanan pendidik untuk memiliki integritas,profesionalitas, dan keikhlasan akan dapat membangun karakter peserta didik sehinggamampu mengintegrasikan nilai-nilai kejujuran, moral, etika, kepatuhan, keikhlasan,keluasan ilmu, sopan-santun, dan tanggung jawab ke dalam perkatanaan, perasaan,sikap, dan prilaku yang berujung pada pembangunan karakter bangsa secara keseluruhan.
Bibliography
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,Jakarta: Jakarta
Pers,2002.Azra, Azyumardi, Kita Sulit Menemukan Keteladanan, Republika Newsroom, Jumat,28 November 2008 dan dapat diakses darihttp://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:WBTTndxeK2gJ:koran.republika.co.id/berita/17112+definisi+keteladanan%3F&cd=7&hl=id&ct=clnk&gl=id

Dwiastuti, Nur, Abdullah Nashih Ulwan dan Aktualisasinya dalam Kepribadian Guru (Telaah Kitab Tarbiyah al-Aulad fi al-Islam), Thesis pada FakultasTarbiyah IAINWalisongo.Glorianet, Integritas, Bukan Karisma, Diakses pada Tanggal 12 Juni, 2010 darihttp://www.glorianet.org/index.php/sendjaya/1452-integritas

Kamal Muhammad Isa, “Khashaish Madrasatin Nubuwwah”, Terj.Chairul Halim,

Saudagar dan Ali Idrus.2009.Pengembangan Profesionalitas Guru. Jakarta: Gaung Persada

Santoso, Teguh, Kembangkan Kepribadian Siswa Unggul Melalui Bina Karakter Guru,Tabloid Penabur Jakarta, No, 23, Edisi November-Desember 2008.

Sumaryo, Suryokusumo, Aspek, Moral dan Etika dalam Penegakan HukumInternasional, Diakses pada Tanggal, 12 Juni 2010 darihttp://www.lfip.org/english/pdf/bali-seminar/Aspek%20moral%20dan%20etika%20dalam%20penegakan%20hukum%20intl%20-%20sumaryo%20suryokusumo.pdf
Tanesia M, Boris U dan Daniel A, Yang Terlupa Dari Keikhlasan, diakses pada Tanggal12 Juni, 2010 dari http://muslimah.or.id/aqidah/yang-terlupa-dari-keikhlasan.html.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen,Pasal 1.

Uno, H. B. (2011). Profesi Kependidikan . Jakarta : Bumi Aksara.
http://www.scribd.com/doc/33044252/Urgensi-Keteladanan-Guru-Dalam-Membentuk-Karakter-Anak-Bangsa

Tentang arassh

i'm a moslem
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s