EVALUASI KURIKULUM

1. Tujuan Evaluasi Kurikulum
Evaluasi kurikulum dimaksud untuk tingkat ketercapaian tujuan pendidikan yang ingin di wujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan, indicator kinerja yang akan dievaluasi disiniadalah evektifitas program.. Dalam arti luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai criteria. Indicator yang dievaluasi adalah efektivitas, relevansi, efesiensi dan kelaikan program.

a. perbaikan program
Dalam kontek tujuan ini,peranan evaluasi lebih bersifat konstruktif, karena informasi hasil evaluasi dijadikan input bagi perbaikan yang perlu di dalam program kurikulum yang sedang dikembangkan. Dari dalam system ini evaluasi dipandang sebagai factor yang memungkinkan dicapainya hasil pengembangan yang optimal dari system yang bersangkutan.

b. Pertanggungjawaban kepada berbagai pihak.
Perlu adanya semacam pertanggung jawaban dari pihak pengembang kurikulum kepada berbagai pihak yang berkepentingan. Pihak yang dimaksud adalah pihak yang mensponsori kegiatan pengembangan kurikulum maupun pihak yang akan menjadi konsumen dari kurikulum yang telah dikembangkan. Bagi pihak pengembang kurikulum, tujuan kedua ini tidak dipandang sebagai suatu kebutuhan dari dalam melaikan lebih merupakan suatu keharusan dari luar. Hal ini tidak bias kita hindari karena persoalan ini mencakup pertanggung jawaban social, ekonomi dan moralyang merupakan suatu konsekuensi logis dalam dalam kegiatan pembaharuan pendidikan.
c. Penentuan tindak hasil pengembangan.
Tindak lanjut pengembangan kurikulum dapat berbentuk atas dua kemungkinan pertanyaan : pertama, apakah kurikulum baru tersebut akan atau tidak akan disebar luaskan ke dalam sisitem yag ada? Kedua, dalam kondisi yang bagaimana dan dengan cara yang bagaimana pula kurikulum baru tersebut akan disebarluaskan kedalam sisitem yang ada?
Ditinjau dari proses pengembangan kurikulum yang sudah berjalan, pertanyaan pertama dipandang tidak tepat untuk diajukan pada akhir fase pengembangan. Pertanyaan tersebut Cuma ada dua kemungkin jawaban ya atau tidak. Pertanyaan kedua dipandang lebih tepat untuk diajuakn pada akhir fase pengembangan kurikulum. Pertanyaan tersebut mengimplikasikan sekurang-kurangnya tiga anak pertanyaan aspek-aspek mana dari kurikulum tersebut yang masih perlu diperbaiki maupun disesuaikan, strategi yang bagaimana dalam penyebarannya ditempuh dan persyaratan apa yang perlu disiapkan. Pertanyaan ini dirasakan lebih bersifat konstruktif dan lebih dapat diterima ditinjau dari segi social, ekonoki, moral maupun teknis untuk menghasilkan informasi yang perlu dalam menjawab pertanyaan yang kedua itulah diperlukan adanya kegiatan evaluasi.
2. Beberapa konsep / Model evaluasi.
Secara garis besar, berbagai konsep / model evaluasi yang telah dikembangkan selama ini dapat digolongkan kedalam empat rumpun mode: measurement, congruence, illumination dan educational system evaluation.

a. Measurement.
Evaluasi dititik beratkan pada hasil belajar dalam bentuk kognitif, psikomotorik maupun nilai dan sikap. Jenis data yang dikumpulkan adalah data obyektif khususnya skor nilai hasil tes Dalam kegiatan evaluasi, cenderung ditempuh pendekatan / cara-cara berikut :
1. Menggunakan prosedur pre-and-assessment dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut : penegasan tujuan, pengembangan alat evaluasi dan penggunaan hasil evaluasi.
2. Analisis hasil evaluasi dilakukan secara bagian demi bagian.
3. Teknik evaluasi mencakup dan teknik evaluasi lainnya yang cocok untuk menilai berbagai jenis perilaku yang terkandung dalam tujuan.
4. Kurang menyetujui diadakan evaluasi perbandingan antara dua atau lebih program.
b. Illumination.
Evaluasi pada dasrnya merupakan studi mengenai : pelaksanaan program, pengaruh factor lingkungan, kebaikan-kebaikan dan kelemahan program serta pengaruh program terhadap perkembangan hasil belajar. Evaluasi lebih didasarkan pada judgement ( pertimbangan ) yang hasilnya diperlukan untuk penyempurnaan program. Objek evaluasi mencakup latar belakang dan perkembangan program, proses pelaksanaan, hasil belajar dan kesulitan-kesulitan yang dialami. Jenis data ynag dikumpulkn pada umumnya data subyektif ( judgement data ). Dalam kegiatan evaluasi cenderung ditempuh pendeketan /cara berikut :
1. menggunakan prosedur yang disebut progressive focusing dengan langkah-langkah pokok : oroentasi, pengamatan yang lebih terarah, analisis sebab akibat.
2. berifat kualitatif-terbuka dan fleksibel-efektif.
3. teknik evaluasi mencakup: observasi, wawancara, angket, analisis dokumen dan bila perlu mencakup tesis.

3. Educational System Evaluation.
Evaluasi pada dasarnya adalah perbandingan antara perpormance setiap dimensi program dan criteria, yang akan berakhir dengan suatu deskripsi dan judgetment. Hasil evaluasi diperlukan untuk penyempurnaan program secara keseluruhan. Objek evaluasi mencakup input ( bahan, rencana,peralatan ), proses dan hasil yang dicapai dalam arti yang lebih luas. Jenis data yang dikumpulkan berupa data obyektif maupun subyektif ( judgement data ).dalam kegiatan evaluasi cenderung ditempuh pandekatan / cara – cara berikut :
1. Membandingkan performance setiap dimensi dengan criteria internal.
2. Membandingkan performance program dengan menggunakan criteria eksternal yaitu performance programn lain.
3. Teknik evaluasi mencakup tes, observasi, wawancara, angket dan analisis dokumen.
4. Tinjaun masing – masing konsep / Model
a. Measurement
Konsep measurement ini telah memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam hal penekanannya terhadap pentongnya obyektivitas dalam prosedur evaluasi. Disamping itu pendekatan yang digunakan konsep ini masih sangat besar pengaruhnya dan dirasakan faedahnya dalam berbagia kegiatan pendidikan seperti, seleksi dan klasifikasi sisa, pemberian nilai di sekolah, dan kegiatan penelitian pendidikan. Measurement is not evaluation, but it can provide useful data or for evaluation.
Sebagai konsekuensi dari penekanan yang berlebih-lebih pada aspek pengukuran, evaluasi cenderung dibatasi pada dimensi tertentu dari program pendidikan yang dapat diukur, terutama hasil belajar yang bersifat kognitif. Yang menjkadi persoalan disini adalah bahea hasil belajar yang bersifat kognitif tersebut bukanlah merupakan satu-satunya indicator bagi keberhasilan suatu kurikulum. Sebagai wahana untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan, kurikulum diharapkan dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada pada diri siswa, tidak terbatas pada potensi kognitif. Disamping itu peranan evaluasi yang diharapkan akan memberikan input bagi penyempurnaan program dalam setiap tahap, menjadi kurang dapat terpenuhi dengan dibatasinya evaluasi pada pengukuran hasil belajar saja, apalagi hanya ditekankan pada bidang kognitif.

b. Congruence
Tujuan konsep ini untuk mengkaji evektivitas kurikulum yag sedang dikembangkan. Dengan kata lain ,konsep congruence ini telah memperlihatkan adanya high degree of integration with the instructional process. Dengan mengjkaji efektifitas kurikulum dalam mencapai tujuan tyabng telah diterapkan, hal ini akan memberikan balikan kepada pengembangan kurikulum tentang tujuan-tujuan mana yang sudah dan belum dicapai. Hasil evaluasi yang diperoleh tidak bersifat relative karena selalu dihubungkan dengan tujuan yang hendak dicapai sebagai criteria perbandingan.
Kelemahan dari konsep ini terletak pada ruang lingkup evaluasinya. Sekalipun tujuan evaluasi di arahkan pada kepentingan penyempurnaan program kurikulum, tetapi konsep ini tidak menjadi input dan proses pelaksanaan sebagai subjek langsung evaluasi. Yang jadi perhatian konsep ini adalah antara tujuan dan hasil belajar. Masih berhubungan dengan persoalan ruang lingkup diatas pelaksanaan evaluasi dari konsepini terjadi pada saat kurikulum sudah selesai dilaksanakan, dengan jalan membandingkan antara hasil pretest dan pottest. Sebagai akibatnya informasi yang dihasilkan hanya dapat menjawab pertanyaan tentang tujuan – tujuan mana yang telah dan belum dapat dicapai. Pertanyaan tentang mengapa tujuan tertemtu belum dapat dicapai, sukar untuk dijawab melalui informasi perbedaan pretest dan posttest. Dengan kata lain pendekatan yang digunakan oleh konsep ini menghasilkan suatu teknik evaluasi yang sifatnya terminal / postfacto. Terlepas dari beberapa kelemahan di atas konsepini telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi perkembangan konsep evaluasi kurikulum, khususnya dalam usaha :
1. Menghubungkan hasil belajar dengan tujuan-tujuan pendidikan sebagai criteria perbandingan dan
2. Memperkenalkan sisitem pengolahan hasil evaluasi secara bagian demi bagian, yang ternyta lebih relevan dengan kebutuhan pengembangan kurikulum.

c. Illumination
Sebagai reaksi terhadap konsep measurement dan congruence yang bersifat terminal seperti disinggung dalam bagian yang lalu, konsep illumination menekan pentingnya dilakukan evaluasi yang berkelanjutan selama proses pelaksanan kurikulum sedang berlangsung. Kelemahan konsep ini terutama terletak pada teknis pelaksanaanya. Pertama, kegiatan evaluasi tidak didahului oleh adanya perumusan kriteriayang jelas sebagai dasar pelaksanaan dan penyimpulan hasil evaluasi. Kedua, obyektivitas dari evaluasi iilah yang perlu dipersoalkan.persoalan obyektivitas evaluasi inilah yang justru dipandang sebagai salah satu kelemahan yang penting dari konsep ini. Disamping itu konsep ini menitikberatkan penggunanan judgement dalam proses evaluasi ,juga terdapat kecendrungan untuk menggunakan alat evaluasi yang terbuka dalam arti kurang spesufik / berstruktur.

d. Educational system evaluation.
Ditinjau dari hakekat dan ruang lingkup evaluasi, konsep ini memperhatikan banyak segi poditif untuk kepentingan proses pengembangan kurikulum. Ditekankannya criteria absolute maupun relative dalamproses evaluasi sangat penting dalammemberikan cirri-ciri khas kegiatan evaluasi. Tanpa criteria kita tidak dapat menghasilkan suatu informasi yang menunjukkan ada tidaknya kesenjangan ( discrepancy ), sedangkan informasi semacam inilah yang diharapkan dari hasil evaluasi. Konsep ini mengemukakan perlunya evaluasi itu dilakukan terhadapberbagai dimensi program, tidak hanya hasil yang dicapai tetapi juga input dan proses dilakukan tahap demi tahap. Ini penting sekali agar penyempurnaan kurikulum dapat dilakukan dalam setiap tahapsehingga kelemahan yang masih terlihat pada suatu tahp tertentu tidak sampai dibawa ke tahap berikutnya.
Ada dua persoalan yang perlu mendapat penegasan dari konsep ini, yang pertama menyangkut segi teknis dan kedua menyangkut segi strstegis. Persoalan teknis menyangkut berkenaan dengan prosedur yang ditempuh dalam membandingkan hasil antara kurikulum yamg baru dan kurikulum yang ada. Pengalaman-pengalaman yanga lalu menunjukan bahwa studi perbandingan semacam inilah pada umumnya berakhir dengan kesimpulan tidak adanya perbedaan yang berarti. Kedua persoalan kedua di atas belum dibahas secara tuntas dalam konsep ini. Secara keseluruhan konsep educational system evaluation ini relevan dengan peranan evaluasi didalam proses pengembangan kurikulum dan dapat mengatasi kelemahan-kelemahan yang terkandung didalam konsep-konsep terdahulu.

5. Model yang disarankan
Ketepatan suatu model tak dapat dilepaskan dari tujuan yang ingin dicapaidari kegiatan evaluasi yang diadakan. Setiap model termasuk model keempat ( educational system evaluation ) memiliki kekuatan dan kelemahan ditinjau dari berbagai segi. Sehubungan dengan itu, berkenaan model yang mana yang akan disarankan, dikemukakanlah hal-hal sebagi berikut :
a. untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh gambaran tentang kurikulum yang sedang dikembangkan, model educatioanal system evaluation, tampaknya merupakan model lain yang dsapat ditanggulangi oleh yang keempat inbi.
b. tTerlepas dari kenyataan tersebut, untuk mencapai tujuan evaluasi yang bersifat khusus, ketiga model yang lain pun masih dapat memberikan sumbangan :

1. Untuk keperluan seleksi dan klasifikasi siswa serta membandingkan efektivitas kurikulum yang baru dengan kurikulum yang ada, model measurement tepat digunakan.
2. Untuk mengkaji efektivitas pembelajaran yang telah dilakukan dan menetapkan tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan pembelajaran, model congruence tergolong ampuh untuk digunakan.
3. Akhirnya, bila kita ingin memperoleh gambaran yang lebih mendalam tentang proses pelaksanaan kurikulum beserta factor-faktor yang mempengaruhinya, model illumination sangat membantu.

Tentang arassh

i'm a moslem
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s