Jangan Jadi Pengemis

Namanya sebut saja Ahmad, ia seorang mahasiswa disebuah perguruan tinggi negeri di pulau jawa. Seorang aktifis kampus, yang banyak menyuarakan tentang keadilan, keimanan, moral dan akhlaq. Tidak ada hari yang kosong atau sekedar untuk rehat, hari-harinya penuh dengan berbagai kegiatan pada umunya para aktifis kampus. Kuliah, mengerjakan tugas kuliah, diskusi, mengajar, membaca, menulis, olah raga, kegiatan UKM dan lain sebagainya. Baginya masa kuliah adalah waktu yang harus dimanfaatkan untuk semaksimal mungkin menimba ilmu, mencari pengalaman, menambah relasi dan melatih soft skil dan hardskill.
pengemis
Baginya wajib hukumnya memilki idealisme, memilki prinsif dalam hidup. Salah satu prinsifnya adalah tidak mau meminta, selama mampu kecuali sudah berada pada titik nadzir batas kemampuannya. prinsifnya inilah yang menyebabkan ia tidak mau mengajukan beasiswa, karena dirasa masih bisa hidup dan kuliah tanpa beasiswa. selain itu sering kali melihat orang yang lebih tidak beruntung darinya, yang menurut dia lebih berhak menerima bantuan. Ia berbuat demikian bukan karena ia mampu atau orang kaya melainkan karena ia tak mau melanggar prinsifnya. baginya orang yang berpegang pada prinsif itulah orang yang memilki idealisme.
walau terkadang godaan untuk mengajukan beasiswapun sering menghampiri, banyak teman-temannya yang lebih mampu dibanding dia mengajukan beasiswa, mereka tersenyum tertawa bahagia tatkala beasiswa telah turun kemudian mereka poya -poya atau pesta, belanja dihadapan dia. sakit rasanya bagi ia melihat keadaan demikian, namun prinsif itu harus tetap dipegang. Banyak yang mengatakan “kalau ada kesempatan ambil saja”, ya mungkin benar tapi biarkan aku memegang prinsifku, biarkan aku belajar memegang prinsifku, biarkan aku belajar istiqomah, biarkan aku belajar memegang janji pada diriku” begitulah bisikan hatinya.
Ketika Ahmad pulang mudik, seperti biasa dirumahnya tidak ada yang menyambut kedatangannya atau sekedar ada makanan yang tersedia untuk menyambut kedatangannya. Karena semua orang sedang sibuk bahu-membahu bekerja. bagi ia kondisi demikian sudah hal yang biasa, tidak ada yang aneh karena jika tidak demikian darimana keluarganya bisa makan sehari-hari, membiayai kebutuhan sekolah adik-adiknya dan membiayainya kuliah.
Karena hal itulah kadang ia menangis, dan berpikiran apa harus melanggar janjinya dan mengajukan beasiswa, ya walaupun tidak ada yang tahu, tapi tetap ia yakin Alloh tahu akan ketidak konsistenannya. Itulah seorang muslim, dan aku seorang muslim, aku harus konsisten aku harus konsisten ” dalam hatinya.
Selain itu banyak hal yang membuatnya menangis yakni tatkala melihat adiknya yang tidak melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya. Kala itu ketika ahmad sedang bersama adiknya menyiram sayuran dikebun yang tepat dipinggir jalan. Adiknya berdiri dengan pandangan mata yang sayu melihat teman-temannya sekolah. Kebetulan pada waktu itu ia sedang semester dua dan adiknya baru lulus Sekolah menengah pertama. Tanpa sepengetahuan adiknya ia memperhatikan tingkah laku adiknya tersebut. Dan kemudian ia menghampirinya kemudian bertanya “apakah kamu ingin sekolah?, singkat adiknya menjawab “ ga “. Kemudian adiknya buru buru melanjutkan pekerjaannya menyiram sayuran kembali. Walaupun adiknya mengatakan “ga” tapi ahmad melihat ketidak jujuran dari mata adiknya, ia tahu adiknya inginj sekali melanjutkan sekolah tapi ia merasa kasihan pada orang tua yang tidak akan mampu membiayainya. Hati ahmad menjerit, dan sembari menyiram sayuran tidak terasa air matanya bercucuran sembari berdoa “ Ya alloh kasihanilah adiku mudahkanlah segala urusannya bimbinglah ia kejalanmu, ya alloh maafkanlah aku karena telah menutup kemungkinan adiku untuk bisa melanjutkan pendidikannya, ya alloh berikanlah hamba kesempatan untuk membalas pengorbanan adiku, Ya alloh berikanlah kepadanya kebahagiaan, dan anugrahkanlah kepadanya nikmat ilmu pengetahuan, dan jadikanlah ia menjadi hamba yang taat kepadamu, bermanfaat bagi sesamanya dan berbakti kepada kedua orang tuanya.” Itulah doa yang dia ucapkan sembari menangis.
Ayah ahmad sudah berusia lanjut namun diusianya tersebut menjadi tulang punggung keluarga dan bekerja dengan beban berat. Setiap hari berjalan ke kebunnya yang membutuhkan perjalanan 3 jam jalan kaki, pulangnya membawa hasil kebun dengan beban yang cukup berat. Itu dilakukan 4 kali dalam seminggu. Pada jam 2 pagi harus segera bergegas kepasar membawa barang dagangannya, dan itu berjalan kaki dengan waktu perjalanan 2 jam. Kondisi jalan yang rusak dan gelap menjadi tantangan tersendiri dan memerlukan kehati-hatian karena melewati beberapa jembatan bambu yang berbahaya.
Suatu hari ahamd membutuhkan biaya untuk biaya skripsinya, dan berencana mau membicarakannya dengan orangtuanya namun apa yang terjadi? Ketika ahmad mau bicara ahmad melihat ayahnya memakai baju compang camping dan sudah lusuh, serta membawa air pada sebotol bekas air mineral. Ahmad bertanya pada ayahnya “ bapa mau kemana ? mau mikul genteng, jawab ayahnya. Genteng beli darimana ? Tanya ahmad. Genteng orang ,,…bapa cuman kuli pangul aja “ jawab ayahnya. Ahmad terdiam tak bisa bicara, yang tadinya mau membicarakan kebutuhan skripsinya, karena melihat kondisi orang tuanya demikian, Ahmadpun urung mengatakan kebutuhannya tersebut.
Akhirnya ahmadpun berangkat kembali kekota tempat ia kuliah, sesampai dikota Ia berpikir keras bagaimana mencari tambahan, supaya bisa mengerjakan skripsi. Kesana kemari ia melamar kerja dan menawarkan jasa kemampuannya namun uang yang didapat belum mencukupi untuk biayanya tersebut. Karena belum memiliki biaya akhirnya waktu kuliah Ahmadpun menjadi lebih lama atau telat lulus.
Satu tahun sudah ahmad kuliah sambil bekerja ia sengaja mengontrak mata kuliah tidak banyak-banyakl agar bisa membagi waktunya dengan bekerja. Dan ketika biaya dirasa cukup ahmadpun memberanikan diri mengontrak skripsi, dan satu semester berlalu akhirnya ahmad lulus dan berhasil memperoleh gelar Sarjana Teknik. Ahmad merasa bangga karena tanpa beasiswa ia bisa kuliah, tanpa meminta ia bisa menyelesaikan pendidikannya.
“Bangsa ini takan pernah maju jika para pemudanya memiliki mental pengemis. Sampai kapanpun kita akan jadi kaum tangan dibawah ketika dunia pendidikan mendidik kita untuk menjadi pengemis, maka ayo para mahasiswa buanglah mental pengemis kalian. Banyak jalan, banyak kesempatan yang lebih mendidilk kita, sehingga akan lahir genarasi-generasi tangguh yang jauh dari mental pengemis.” Itulah tulisan yang tertulis pada photo wisudanya
(Kisah nyata seorang Mahasiswa Teknik sipil, disalah satu perguruan tinggi negri di pulau jawa, mudah-mudahan memberi inspirasi)

Tentang arassh

i'm a moslem
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s