Mengelola Konflik

Oleh: Arassh Sidik Fatahillah

 Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.(wikipedia.org).

Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan.

Gambar

Konflik lahir karena perbedaan menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Semua manusia memiliki keunikan tersendiri, keinginan, masa lalu, latar belakang, harapan dan cita-cita yang berbeda. Karena itu adanya sebuah konflik merupakan hal yang wajar. Sehingga yang menjadi masalah bukan adanya konflik tapi bagaimana kita menyikapi konflik tersebut.

Kunci utama dalam menyikapi konflik diantara kita adalah ruh atau semangat yang ada dalam diri kita (Gymnastiar, 2006). Karena hal inilah yang mewarnai tutur kata, raut muka, gerak gerik, dan juga keputusan yang kita ambil. Semangat itu pula yang menjiwai kekuatan perbuatan kita.

Semangat pertama, adalah semangat bersaudara, bukan semangat bermusuhan. Hal ini penting karena semangat bermusuhan akan melahirkan perasaan yang tidak tenang, tidak nyaman, gelisah,”galau”, dan raut muka atau wajah yang berubah. Kadang jika berucap mengeluarkan kata yang tidak pantas, mengambil keputusan yang tidak adil atau dzalim. Sehingga bukan saling menguatkan malah saling meruntuhkan. Boros waktu, tenaga, pikiran dan emosi, serta masalah bukannya selesai malah semakin bertambah.

  10. orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.QS. 49:10

Semangat kedua, adalah semangat solusi atau semangat menyelesaikan masalah. Karena sering dalam menghadapi masalah atau konflik perbuatan kita bukan menyelesaikan, tapi memperumit dan memperbesar masalah. Mungkin lahir dari ke EGOIS an atau karena keputus asaan, atau bisa jadi karena penyakit hati. Seperti halnya dusta atau mengada-ngada, dan ghibah. Mengenai ghibbah dalam sebuah hadis ;

“Tahukah kalian apa itu ghibah?”,

Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Beliau bersabda, “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.”

Lalu ditanyakan kepada beliau, “Lalu bagaimana apabila pada diri saudara saya itu kenyataannya sebagaimana yang saya ungkapkan?

Maka beliau bersabda, “Apabila cerita yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataan maka engkau telah meng-ghibahinya. Dan apabila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya (berbuat buhtan).”
(HR. Muslim. 4/2001. Dinukil dari Nashihatii lin Nisaa’) (Sisyanto, 2009)

 

Jabir bin  Abdullah ra. Meriwayatkan “Ketika kami bersama Rasulullah SAW.  Tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai maka  Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari  orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)

12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Qs.49:12)

Setelah muncul masalah kita harus mengevalusi diri, agar masalah yang sama tidak terulang. Selain itu harus memiliki tujuan yang jelas, yaitu solusi menyelesaikan masalah. Sehingga ketika kita bertengkar harus kita bertanya “Apakah ini akan menyelesaikan masalah?”. Kalau ternyata tidak maka berhentilah, dinginkan kepala, pikirkan semuanya dengan baik, hilangkanlah segala emosi dan ke egoisan kita, perhitungkanlah segala akibat dan resiko yang akan timbul. Ingat jika kita sabar Alloh akan menolong kita.

Bukan cari solusi agar kita menang, karena belum tentu kita menang kita benar. Karena bisa jadi kita menang padahal kita sebenarnya Dzalim. Insya Alloh, Alloh bersama orang-orang yang sabar.

Semangat yang ketiga, adalah semangat maslahat(kebaikan) atau sukses bersama. Kita bukan pemenang sejati ketika kita menang diatas penderitaan atau kepahitan saudara kita sendiri. Kita bukan orang sukses jika kita tertawa terbahak-bahak dibawah derai air mata saudara sendiri. Bukan pula kehormatan jika kita dipuji dengan mempermalukan saudara sendir.

Kemenangan kita sesungguhnya adalah ketika kebenaran itu bisa tegak tanpa kita harus merasa menjadi pahlawan; tanpa harus merasa hebat (Gymnastiar, 2006). Kita tidak mencari kemenangan tapi tegaknya kebenaran yang adil. Maka ketika ada masalah jangan mengaharap kita yang menang tapi berharap kemenangan bagi yang berada di pihak kebenaran.

Daftar Pustaka

Gymnastiar, A. (2006). AKU BISA. Bandung: Khas MQ.

Sisyanto, R. (2009). ghibah . Bandung: Lensa Press.

Wikipedia. Org

Tentang arassh

i'm a moslem
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mengelola Konflik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s