DEISLAMISASI PENDIDIKAN PADA MATA PELAJARAN SEJARAH

BAB 1
PENDAHULUAN
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah dibuatnya untuk hari esok (akhirat): dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.59:18) (Al- Quran dan Terjemahannya, 2004)
Sejarah merupakan salah satu cabang ilmu sosial yang perlu diperhatika. Jika terdapat kesalahan dalam sejarah, baik sengaja atau tidak maka akan terjadi kesalahan digenerasi mendatang. Begitu pentingnya persoalan sejarah ini sehingga tertuang dalam Al- Quran QS. 59:18 …dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya (sejarahmu) untuk hari esok (akhirat)….
Kejelasan sejarah tentang sesuatu bisa dijadikan pembenaran akan adanya sesuatu. Misalnya saja kejelasan sejarah tentang islam, siapa yang membawanya, bagaimana sifat pembawanya dll. Sehingga menimbulkan rasa keyakinan akan kebenaran dari agama bagi para pemeluknya. Tapi sebaliknya apabila sejarahnya tidak jelas maka hal tersebut akan dilupakan dan dianggap tidak ada keberadaannya dan kemungkinan hanya dianggap sebagai mitos belaka.
Hal inilah yang dilihat oleh para orientalis sebagai salah satu cara untuk mendeskriditkan umat islam di Indonesia. Kita ketahui bahwa penulisan tentang sejarah Indonesia dahulu dilakukan oleh sejarawan Belanda. Sementara masyarakat awam dan para cendekiawan muslim sangat kurang memperhatikannya. Karena mengira bahwa sejarah yang ditulis sejarawan Belanda tersebut adalah sudah benar.
Menurut Prof. Dr. K.H.Salimudin M.A.dalam sambutannya pada buku API SEJARAH yang ditulis oleh Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara mengemukakan ”Sampai sekarang ini belum pernah terpikirkan oleh para ulama dan santri, terjadi keanehan dan kejanggalan sejarah …….” selain itu Ia pun mengungkapkan bahwa “upaya deislamisasi penulisan sejarah Indonesia sudah berlangsung cukup lama, secara sistemik proses deislamisasi penulisan sejarah Indonesia, menjadikan peran santri dan ulama dibidang IPOLEKSOSBUD dan HANKAM, tidak mendapat tempat yang terhormat dalam penulisan sejarah Indonesia”. (Suryanegara, 2009).
Semua sejarah yang dipalsukan tersebut sudah menjadi bahan ajar bagi siswa-siswi mulai dari SD, SMP, SMA/MA/SMK dan bahkan perguruan tinggi. Hal ini berakibat pada pembentukan persepsi yang salah dimasyarakat mengenai peran islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mungkin saja tidak banyak siswa yang sudah mencapai tingkat persepsi, terhadap dampak dari pemalsuan sejarah ini. Tapi sesuatu yang sudah diketahui banyak orang akan dianggap benar, dan lambat laun persepsi dikalangan masyarakat akan terbentuk.
Berdasar pada hal diatas maka kami merumuskan permasalahannya sebagai berikut:
1. Pengetahuan siswa tentang sejarah
2. Pengetahuan siswa tentang tokoh-tokoh dan organisasi islam Vs tokoh dan organisasi sekuler
3. Pemahaman siswa tentang sejarah
Untuk sistematika penulisannya adalah sebagai berikut
BAB I PENDAHULUAN
Berisi latar belakang masalah, pemasalahan, dan sistematika penulisan
BAB II PEMBAHASAN
Merupakan bagian yang membahas inti pembahasannya
BAB III SIMPULAN

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Sejarah dan Deislamisasi
Secara bahasa kata sejarah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata: شجرة yang berarti pohon. Sedangkan menurut istilah sejarah berarti proses pertumbuhan dan perkembangan manusia dari semenjak lahir sampai sekarang, atau proses pertumbuhan dan perkembangan suatu negara dari semenjak lahir sampai sekarang. (Hafizi, 2008)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pendidikan, 2008) sejarah merupakan asal-usul (keturunan) silsilah; kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau; tambo; riwayat; pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau. Dalam pandangan Kuntowijoyo, (Suryanegara, 2009) “sejarah itu rekonstruksi masa lalu kehidupan manusia yang memiliki berbagai manfaat dan kegunaan, diantaranya: sejarah sebagai pendidikan moral artinya sejarah tidak hanya memandang sebatas benar dan salah, sejarah harus berbicara dengan fakta, tanpa fakta sejarah tidak boleh bersuara.”
Deislamisasi adalah penghilangan harkat islam: mereka berusaha merusak ajaran islam dari dalam dengan menggerogoti nilai-nilai islam. (Pendidikan, 2008)
B. Fungsi Sejarah
Menurut Al-Qur’an fungsi sejarah tertuang dalam Q.S 11:120 yang artinya:
“…dan senua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”.
Dalam QS. 12:111 Allah berfirman yang artinya sebagai berikut:
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”.
Fungsi Sejarah menurut Al- Quran yang terangkum dalam surat 11 ayat 120:
1. Sejarah sebagai peneguh hati
2. Sejarah sebagai pengajaran
3. Sejarah sebagai peringatan
4. Sejarah sebagai kebenaran
(Cepot, 2008)
C. Tujuan Mempelajari Sejarah
Menurut (Hafizi, 2008), mengemukakan tujuan mempelajari sejarah adalah sebagai berikut:
1. Memelihara kemurnian sejarah dari upaya-upaya penyimpangan sejarah yang dilakukan oleh orang-orang kafir (QS.9:126)
“Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak pula mengambil pelajaran?”
2. Untuk menanamkan pemahaman secara ilmu dan amal tentang sejarah dari masa ke masa. (lihat hadist riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dari Nu’man bin Basyir)
3. Memberikan wawasan yang luas mengenai pemahaman sejarah baik itu tentang sejarah manusia, sebuah negara maupun dien islam khususnya di Indonesia.
4. Mempertahankan eksistensi sebuah keyakinan dari upaya orang-orang kafir yang hendak meruntuhkannya.
D. Tujuan Pendidikan Islam VS Nasional
Sistem pendidikan islam didasarkan atas beberapa konsep pokok tertentu, yaitu konsep agama (dien), konsep insan (insan), konsep ilmu (‘ilm dan ma’rifat), konsep kebijakan(hikmah), konsep keadilan (‘adl), konsep amal (amal sebagai adab), dan konsep universitas (kulliyah jami’ah). (Al-Attas, 1996)
Menurut Syed Muhammad Al-Naquib Al-Attas (1996:11)“Tujuan pencarian ilmu dan pendidikan dalam islam adalah untuk menghasilkan seorang manusia yang baik, dan bukan warga negara yang baik; maksud baik disini adalah manusia universal atau insan kamil”.
Sedangkan menurut (UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional) fungsi dan tujuan pendidikan nasional adalah sebagai berikut “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Dalam hal ini antara tujuan pendidikan nasional dengan tujuan pendidikan islam adalah berbeda.
E. Pelajaran Sejarah yang Dipalsukan
1. Hari Kebangkitan Nasional
K.H. Firdaus AN (pengantar buku jejak jihad SM kartosuwiryo karya Irfan S awas) dalam catatan kaki, hal 28 menyatakan bahwa manifulasi atau distorsi sejarah yang memutar balikan fakta sejarah secara mencolok adalah terjadi pada Budi Utomo yang dijadikan tonggak sejarah pergerakan nasional Indonesia. Padahal bukan Budi Utomo yang merupakan partai politik pertama, tetapi syarikat islam (pertama kali bernama Syarikat Dagang Islam) lahir tahun 1905. Disamping itu Budi Utomo bukanlah partai rakyat yang menantang penjajah Belanda, tetapi golongan kaum priyayi yang menjadi anak mas dan bekerjasama dengan Belanda.
Anggota Budi Utomo tidak ada yang masuk penjara, dibuang ke digul atau ditembak mati oleh Belanda. Tetapi tokoh Syarikat Islam berdesak-desak masuk penjara yang sempit, ditembak mati atau dibuang ke digul (Irian Barat). Budi Utomo bukanlah bersifat nasional, tetapi regional dan anggotanya terbatas pada suku, bangsa tertentu saja (Jawa dan Madura ) dan yang lain dari itu tidak boleh menjadi anggotanya. Sedangkan tokoh-tokoh Syarikat Islam mencakup seluruh bangsa Indonesia, Jawa Madura, Sulawesi, Kalimnatan, Sumatera, Maluku, bersifat nasional. Budi Utomo tidak mengantar Indonesia ke gerbang kemerdekaan, tetapi Syarikat Islam mengantarkan Indonesia kepintu gerbang kemerdekaan itu. Beda dengan Syarikat Islam, anggaran dasar Budi Utomo memakai bahasa Belanda. Budi Utomo itu sekuler dan anti islam, oleh karena itu ia dikutuk oleh kaum muslimin dan bubar pada tahun 1935.
Tetapi anehnya dia diperingati sebagai tonggak sejarah Indonesia. Itulah distorsi sejarah yang harus dikoreksi dan diperbaiki oleh generasi penerus. Jangan mau saja menelan yang diputar balikan, demi kebenaran generasi penerus harus membuka matanya untuk memberantas kepalsuan demi demi tegaknya keadilan sejarah sesuai dengan fakta yang sebenarnya. (Awas, 2007)

2. Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS)
Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) yang diperingati tiap tanggal 2 mei tiap tahunnya juga adalah ketetapan yang sangat politis dan subjektif. Hari Kebangkitan Nasional diperingati berdasar atas hari lahir Ki Hajar Dewantaram pendiri taman siswa, 1922 M. padahal 10 tahun sebelumnya 1912 KH. Ahmad Dahlan telah merintis pendirian pendidikan untuk pribumi saat itu. (Mansyur, 2009)
3. Sejarah Runtuhnya Kerajaan Hindu-Budha
Dalam mata pelajaran sejarah di sekolah, kita tentu masih ingat bahwa runtuhnya Kerajaan Hindu-Budha di Nusantara diakibatkan oleh kebangkitan Kerajaan Islam, dengan artian munculnya Kerajaan Mataram menyebabkan runtuhnya Kerajaan Majapahit. Sehingga dikesankan Islam ikut berperan menghancurkan. Padahal kenyataannya tidak seperti itu dan itu hasil manipulasi penulisan sejarah sepotong-potong versi sejarawan penjajah.
4. Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia
Di luar itu, banyak sekali catatan sejarah yang menyatakan bahwa masuknya Islam ke Nusantara terjadi pada abad ke-13. Padahal kenyataan itu tidak sepenuhnya tepat, mengingat jika mengacu pada perjalanan pedagang bangsa Arab pasca tersebarnya ajaran Islam setelah wafatnya nabi Muhammad Saw. maka dapat disimpulkan abad ke-7, Islam sudah masuk ke wilayah ujung paling barat di Indonesia, tepatnya di kawasan Aceh. (Suryanegara, 2009)
Bahkan Buya Hamka berpendapat pada abad ke-7 wirausahawan Muslim dari Arab sudah berjualan di pantai barat Sumatra. Sehingga jika ada yang mengatakan Islam masuk Nusantara pada abad ke-13 dengan ditandai berdirinya Kesultanan Samudra Pasai di Malaka, itu kurang tepat. Mengingat saat itu adalah masa mulainya masa kejayaan perkembangan Islam, bukan awal masuknya Islam. (Mansyur, 2009)
5. Sejarah Tokoh-Tokoh Islam
Beberapa tokoh islam yang sejarahnya dipalsukan atau diputar balikan peran dan sepak terjangnya atau tujuan pergerakannya, adalah
a) Wali songo
Sejarah wali songo lebih menitik beratkan pada hal-hal mistis, padahal pada sejarah walisongo terdapat suatu upaya, strategi penyebaran islam di indonesia. Umumnya kita mengira wali sanga sebagai pembawa pertama ajaran islam ke nusantara indonesia. Padahal aktifitas para wali songo terjadi pada periode perkembangan agama islam di indonesia, ditandai dengan telah berdirinya kekuasaan politik islam atau kesultanan. Wali songo ini antara wali yang satu dengan yang lainnnya selain hubungan guru dan murid juga ada hubungan pemerintahan.
b) Pangeran diponegoro
Sejarah yang mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro berperang se-kedar untuk tanah leluhur dan ini amat sangat mengerdilkan perjuangan beliau. Pangeran Diponegoro bukan seorang makelar tanah. Dia berjuang untuk agama dan sekaligus untuk bangsanya. Tentu tidak adil jika mele-takkan motif dan tujuan perjuangan seorang ulama seperti Diponegoro di-reduksi dari urusan agama menjadi sekedar urusan duniawi (Mansyur, 2009).

c) Sisinga Mangaraja XII
Dalam sejarah dikatakan bahwa si singamangaraja adalah seorang kristen padahal ia adalah seorang muslim. Hal ini terlihat pada lambang bendera, dan stempel dan cap kerajaannya menggunakan tahun hijriyah. (Mansyur, 2009)
d) S.M.Kartosuwiryo
Orang mengenalnya sebagai pemberontak, karena beliau adalah proklamator NII, ia dianggap mendirikan negara dalam negara. Padahal ia memproklamirkan NII, ketika Jawa Barat sedang vacum of power. (Awas, 2007). Selain itu beliau juga merupakan seorang ulama yang aktif menulis dan seorang mujadid, beliau orang yang banyak berperan sejak pra kemerdekaan sampai sesudah kemerdekaan, dan pernah ditawari sebagai mentri pertahanan tapi ditolaknya karena tidak setuju dengan falsafah yang tidak sesuai dengan Al- Quran.
e) Kapitan patimura
Orang mengenalnya sebagai orang nasrani padahal ia adalah muslim. (Mansyur, 2009)
f) RA Kartini
Sejarah tidak mengekspos bahwa ia berjuang berdasarkan al-quran dan sunah. (Mansyur, 2009) Dalam sejarah lebih cenderung ke Emansifasi wanita, tanpa ada kaitan dengan sesuatu yang mengilhami beliau atau pemahaman yang menggerakan beliau. Sehingga pada akhirnya emansifasipun menjadi emansifasi kebablasan.
g) HOS Cokro Aminoto
Sejarah tidak mengekspos tentang pemikiran-pemikiran beliau, yang menginginkan berdirinya negara berdasar islam, yang diturunkannya pada SM. Karto Suwiryo.
h) Dan lain-lain
Masih banyak tokoh- tokoh islam lainnya yang peran dan sepak terjangnya didiskreditkan, ditutupi, dibatasi, diputar balikan atau dikurangi. Hal ini semua merupakan deislamisasi penulisan sejarah. Salah satu tokoh yang berperan dalam deislamisasi sejarah ini adalah M. Yamin penganut Tan Malakais yang berhaluan Marxist.
F. Pengaruh Pendidikan Sejarah pada Siswa
Pelajaran sejarah yang diputar balikan sudah menjadi bahan ajar di sekolah dari jenjang SD, SMP, SMA/MA/ SMK dan perguruan tinggi. Walau untuk siswa SD dan SMP belum menjadi sebuah persepsi dan sekedar hapalan saja. Namun demikian sesuatu yang diketahui banyak orang lama kelamaan akan dianggap benar. Dari observasi yang dilakukan kelompok kami menemukan bahwa pada umunya siswa/i tidak mengetahui tentang sejarah indonesia dan cenderung tidak acuh dengan hal tersebut. Kalaupun tahu, mereka tidak memahami dan bahkan kurang mema’nai sejarah yang pernah terjadi.
(hasil observasi dan kajian lainnya tidak kami tampilkan untuk sementara)

BAB III
SIMPULAN

Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, sebab sekitar 88 persen atau 200 juta masyarakatnya menganut agama Islam. Janggalnya, walaupun agama Islam sudah merasuki segala sendi kehidupan masyarakat Indonesia, namun dalam catatan sejarah tertulis sangat sedikit sekali referensi tentang sepak terjang tokoh Islam maupun Kerajaan Islam dalam kontribusinya terhadap pembentukan wilayah Indonesia sebelum zaman kemerdekaan.
Deislamisasi Catatan Sejarah yang Menjadi Bahan Ajar di Dunia Pendidikan
Dalam mata pelajaran sejarah di sekolah, kita tentu masih ingat bahwa runtuhnya Kerajaan Hindu-Budha di Nusantara diakibatkan oleh kebangkitan Kerajaan Islam, dengan artian munculnya Kerajaan Mataram menyebabkan runtuhnya Kerajaan Majapahit. Sehingga dikesankan Islam ikut berperan menghancurkan. Padahal kenyataannya tidak seperti itu dan itu hasil manipulasi penulisan sejarah sepotong-potong versi sejarawan penjajah.
Di luar itu, banyak sekali catatan sejarah yang menyatakan bahwa masuknya Islam ke Nusantara terjadi pada abad ke-13. Padahal kenyataan itu tidak sepenuhnya tepat, mengingat jika mengacu pada perjalanan pedagang bangsa Arab pasca tersebarnya ajaran Islam setelah wafatnya nabi Muhammad Saw. maka dapat disimpulkan abad ke-7, Islam sudah masuk ke wilayah ujung paling barat di Indonesia, tepatnya di kawasan Aceh.
Selama ini kita jarang mendengar tentang peranan siginifikan figur pejuang Muslim yang membela Tanah Air. Hal itu terkait dengan dominasi penulisan sejarah yang dilakukan penjajah barat yang menguasai arus kekuatan informasi hingga penulisan sejarah pun dibuat versi mereka untuk kepentingan politis.
Karena sudah jamak diketahui sejarah ditulis berdasar versi penguasa dan cenderung mengabaikan dan menghilangkan sama sekali berbagai sumbangsih positif yang berhasil dilakukan musuhnya dalam hal ini kalangan tokoh Islam. Juga, realitas sejarah mengatakan bahwa sejarawan Belanda yang disponsori pemerintah kolonial berupaya dengan sengaja mendistorsikan penulisan sejarah Indonesia dengan mengesampingkan peran Islam dalam berbagai segi kehidupan masyarakat. Karena itu dengan hegemoni kekuatannya sejarawan penjajah berupaya membelokkan ajaran Islam dengan membuat cerita dari versinya sendiri untuk melemahkan umat Islam.
Masyarakat Indonesia yang mayoritas memeluk Islam ternyata belum dapat gambaran secara tepat tentang perjalanan pejuang muslim mewujudkan bersatunya Nusantara. Karena versi sejarah yang berkembang saat ini sangat sedikit sekali tokoh atau pahlawan Muslim yang tercatat dalam tinta sejarah. Hal itu tentu menjadi sebuah kontradiksi mengingat dalam kenyataannya peranan mereka dalam berjuang mengusir kolonialisme dari Tanah Air terbukti signifikan dan dominan, serta berkontribusi besar memerdekakan bangsa Indonesia menjadi negara berdaulat.
Proses deislamisasi ini ditebar lewat dunia pendidikan, sehingga generasi penerus bangsa teracuni oleh sejarah yang penuh kepalsuan. Hal ini berakibat pada simpati masyarakat, serta pemaknaan dan persepsi masyarakat yang salah terhadap islam.

DAFTAR PUSTAKA

Al- Quran dan Terjemahannya. (2004). Bandung: CV.Penerbit Jumanatul ‘Ali-Art (J-Art).
Al-Attas, S. M.-N. (1996). Konsep Pendidikan Dalam Islam. Bandung: Mizan.
Awas, I. S. (2007). Jejak Jihad S.M. Karto Suwiryo. Jogjakarta: Uswah.
Cepot, K. (2008, November 30). Diambil kembali dari http://serbasejarah.wordpress.com/2008/11/30/fungsi-sejarah-menurut-al-quran/
Hafizi, A. (2008). Dipetik maret 10, 2011, dari Pentingnya Mempelajari Sejarah: http://avidt.blogspot.com/2010/01/pentingnya-mempelajari-sejarah.html
Mansyur, A. (2009). API SEJARAH 2. Bandung: Salamadani.
Pendidikan, D. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dipetik maret 9, 2011, dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
Suryanegara, A. M. (2009). API SEJARAH 1. Bandung: PT.Salamadani Pustaka Semesta.
UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.

Tentang arassh

i'm a moslem
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke DEISLAMISASI PENDIDIKAN PADA MATA PELAJARAN SEJARAH

  1. arassh berkata:

    o ya punten kepada pra pembca…ini msh hrs di revisi…..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s