SYAHADATAIN

sahadatain

Hal yang sungguh aneh ketika mendengar syahadat itu mencekam, karena kata syahadat sekarang diidentikan dengan aliran sesat.  Selain kata syahadat ada beberapa kata yang dianggap mencekam seperti  kata ikrar, janji setia,bae’at dan entah apalagi. Sebenarnya bukan tanpa sebab kenapa kata –kata tersebut konotasinya jadi negatif, kemudian juga ada pihak-pihak yang menginginkan kata-kata tersebut menjadi hal yang mencekam. Dalam pembahasan saya tidak akan membahas sebab,atau pihak mana yang telah membuat isu tentang hal tadi, tapi saya akan mencoba menulis kembali mengenai syahadatain dari beberapa tulisan Muhammad Umar Jiau al-haq.

Syahadatain adalah  dua persaksian atau dua perjanjian. Persaksian pertama yaitu “laa ilaha illalloh” pernyataan tersebut dilakukan oleh Alloh, malaikat dan ulul ilmi (3:18), perjanjian kedua adalah “Muhammad Rosululloh”,Kemudian dua pernyataan tersebut menjadi rukun islam yang pertama. Selain itu hal ini pun yang menjadi jaminan akan didapatnya safa’at dihari kiamat nanti, sebagiamana firmannya:

“Mereka tidak berhak mendapat syafaat kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian  disisi tuhan yang maha pemurah” (Qs:19:87)

Perjanjian ini pula yang menjadikan sebab seseorang dapat melaksanakan hukum-hukum alloh, sebagaimana firman-Nya:

“Atau tidakkah kamu berjanji dengan kami, yang berlaku sampai hari kiamat; Sesungguhnya bagi kamu (dengan perjanjian itu ) kamu dapat mengambil keputusan “ (Qs: 68:39)

Pada ayat diatas yang dimaksud kata “AIMAN” (coba lihat mushaf),sumpah atau janji ini adalah pelaksanaan syariat syahadatain. Syahadatain adalah rukun pertama dalam islam. Orang yang melaksanakan syariat ini adalah mumin yang siap memilih al-islam sebagai al-din. Menjadi muslim adalah pilihan, manusia yang telah mukallaf. Dalam kitab SULAM TAUFIQ :”Diwajibkan atas semua mukallaf masuk kedalam al-islam dan senantiasa tetap didalamnya dan menerapkan kewajiban atasnya dari semua hukum..”

Manusia yang telah mukallaf diberikan kemampuan berfikir sehingga mampu befikir mana yang haq(benar) dan mana yang bathil(salah). Allohlah yang telah memberikan kemampuan ini,sebagaimana firmannya:

“Dan Dia-lah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian;pendengaran penglihatan dan hati. Tapi Amat sedikit kamu bersyukur “ (Qs:23:78)

Bagi orang-orang yang tidak menggunakan akal fikirannya untuk memilih jalan haq dan bathil, maka neraka bagi mereka, sebagaiman firman-Nya:

“Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manuskia, mereka mempunyai hati tetapi tidak di gunakan untuk memahami ayat-ayat Alloh dan mereka mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat tanda tanda kekuasaan alloh, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat Alloh mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai “ ( QS:7:179)

Bagi yang memilih jalan yang benar yaitu al-islam sebagai jalan hidupnya, maka mereka mengikuti jalan yang lurus, shirathal mustaqim. Shirathal mustaqim itulah al-islam. Sebagaimana firman-Nya:

“Barang siapa yang berpegang teguh kepada agama Alloh (islam) maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS:3:101)

Bagi yang meragukan  al-islam, mereka akan menolak al-islam, mereka akan mendapat siksa Alloh di dunia dan akhirat(QS:6:124,130), bagi yang telah melaksanakan syariat syahadatain berarti telah mendapat hidayah Alloh (Qs:6:125)

Orang yang beriman diperintahkan untuk memasuki al-islam dengan firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman,masuklah kedalam islam secara ‘kaffah’,dan janganlah mengikuti langkah-langkah (sistem) syetan. Sesungguhnya syetan adalah musuh yang nyata” (Qs:2:208)

Firman Alloh ini mengandung perintah sekaligus pula larangan. Perintah, yaitu dengan kalimat : “Udkhulu fi silmi kaaffan”, artinya “masuklah kedalam islam secara menyeluruh”. Larangan, yaitu kalimat “ wala tattabi’u khutuwatisy syaithan”, artinnya “ Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah(sistem) syaithan”.

Setiap perintah adalah wajib, bagi yang tidak melaksanakan berarti menolak perintah Alloh SWT. Setiap larangan adalah haram dan bagi yang melaksanakannya berarti melanggar larangan Alloh SWT.

Masuk kedalam islam secara kaffah diikuti dengan larangan mengikuti sistem setan, berarti MEMASUKI harus diikuti  dengan KELUAR dari sistem setan. Antara kalimat pertama dan kedua sangat erat kaitannya.Tak mungkin memasuki islam kalau masih berada dalam sistem setan. Inilah yang dimaksud dengan kaffatan.

Kaffatan merupakan kalimat isim yang menjelaskan kalimat fi’il(kata kerja) “udkhulu”(masuklah).Bukan menjelaskan kalimat al-silmi(islam).karena kalau menjelaskan kalimat al-silmiharus kaffatain di jar-kan(jeer). Islam adalah dien  yang sempurna, komprehensif (menyeluruh). Jadi tidak ada istilah “ISLAM KAFFAH”, tetapi yang harus kaffah itu adalah MASUKNYA KEDALAM ISLAM. Begitu………

Sebagaimana tadi dijelaskan bahwa jika memasuki sistem islam maka harus menjauhi sistem thogut (2:208) karena tidak mungkin berada pada dua sistem yang saling bertentangan, mengabdi pada Alloh harus meninggalkan pengabdian kepada selain Alloh (QS:16:36).Karena itulah tauhid dan itu tercermin pada kalimat ‘lailaha illalloh”yang artinya ada unsur penetapan dan pengingkaran. Jadi kalau baru menerima islam tapi belum ingkar pada thogut itu belum tauhid.

Tindakan seseorang memasuki islam inilah yang disebut Hijrah (pindah dari sistem thogut pada sistem islam). Sehingga bunyi kalimat syahadah uluhiyah adalah “Laa ilaha illa Alloh “menunjukan penolakan pada semua sistem selain islam dan menerima sistem dari Alloh SWT.

Syahadah uluhiyah belum sempurna kalau belum menerima syahadah mulkiyah, yaitu pengakuan akan kerasulan Muhammad SAW. karena syahadah mulkiyah adalah penjabaran dari syahadah uluhiyah. Tidak sempurna syahadah hanya mengakui Alloh sebagia illah tanpa diikuti pengakuan kerosulan Nabi Muhammad  SAW. dan memang tidak masuk akal kita percaya pada Alloh tapi tidak mengakui pada yang menyampaikan tentang Alloh SWT. Pengakuan ini disebut syahadatain, yang artinya dua syahadah, dua persaksian atau dua sumpah.

Syahadatain itu merupakan pokok diterima atau tidaknya segala amal ibadah kita, kalau kita ibaratkan shadatain itu adalah nilainya satu dan yang lain nol. Dan kita tahu bahwa angka 100000, tidak bernilai tanpa angka satu.

Syarat sah solat zakat puasa dll,adalah muslim. Muslim adalah orang yang mengakui atau berirkar dua kalimat Syahadatain sesuai syariat. Sedangakn orang –orang yang menolak syhadatain adalah orang yang sombong dan mereka mendapat laknat dari Alloh SWT. Sebagaimana Firman-Nya:

“Sungguh, dahulu apabila dikatakan kepada mereka “laa illaha illaloh”,mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila (QS:37:35-36)

“Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh? padahala dia diajak kepada (agama) islam. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS:61:7)

Telah sepakat ahli sunnah bahwa,ahli ahdis,fuqaha, dan mutakalimin bahwa iman tanpa diikararkan oleh lisan(tanpa mengikrarkan syahadatain),maka tidak akan diterima amalnya. Iman adalah diikrarkan dengan lisan di benarkan dengan hati dan di amalkan dengan perbuatan. Disebutkan dalam kitab al-irsyad al-ibad karya syeikh zaenuddin bin Abdul Aziz sebagi berikut:

Al-Taju al- subky:”Al islam adalah pebuatan anggota badan, tidak diperhitungkan (tidak ada artinya),kecuali dengan iman. Al- iman yang yang dibenarkan hati tidak diperhitungkan kecuali mengucapkan,mengikrarkan syahadatain. Muhammad Nawawi mengambil dari syarah muslim (hal ini) merupakan kesepakatan ahlusunnah, ahli hadis, fuqaha, mutakalimin,bahwa beriman dengan hati apabila tidak di ucapkan dengan lisan padahal mampu, maka dia akan tetap menjadi ahli neraka (titik).

untuk dalil dalilnya anda download di http://www.ziddu.com/download/14703082/dalilsyahadatain.docx.html

Daftar bacaan:

  1. Alquran dan terjemahnya al-aliyy.Diponegoro: Bandung
  2. Umar J,muhammad.(2009).Mencermati Aliran Sesat.Pustaka Islamika: Bandung

Tentang arassh

i'm a moslem
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

4 Balasan ke SYAHADATAIN

  1. muslim berkata:

    setuju,,,

    Suka

  2. baskara berkata:

    untuk menjadi golongan yang sedikit memang tidak mudah.

    Suka

  3. Ping balik: SYAHADATAIN | Goresan Sebuah Pena

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s