KONSEP DASAR PEMBELAJARAN

Dalam memaknai konsep maka berhubugan dengan teori, sedangkan teori akan berkaitan denga sesuatu hal yang dipandang secara ilmiah. Jika teori berhubungan dengan konsep maka dalam urusan tentang konsep dasar pembelajaran akan tertuju pada landasan ilmiah pembelajaran. Melalui landasan ilmiah yang disebut dengan konsep dasar ilmiah maka semua pihak akan memahami apa itu pembelajaran. Pada uraian ini akan dibahas beberapa tema berkaitan dengan pembekalan terhadap pemahaman tentang pembelajaran. Diantaranya juga berhubungan dengan landasan-landasan filsfat, psikologis, sosiologis dan komunikasi yang selalu banyak ditemukan dalam sebuah pembelajaran.

1. Hakikat Belajar
Belajar pada hakekatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu ( Sudjana, 1989 : 28 ). Sedangkan Witherington ( 1952 ) menyebutkan bahwa belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanivestasikan sebagai suatu pola – pola respon yang berupa keterampilan, sikap, kebiasaan, kecakapan dan pemahaman.
Dari beberapa kutipan diatas dapat disimpulkan beberapa hal menyangkut pengertian belajar sebagai berikut :
a. Belajar merupakan suatu proses yaitu kegiatan yang berkesinambungan yang dimulai sejak lahir dan terus menerus berlangsung seumur hidup.
b. Dalam belajar terjadi adanya perubahan tingkah laku yag bersifat relative permanent.
c. Hasil belajar ditujukan dengan aktivitas – aktivitas tingkah laku secara keseluruhan
d. Adanya peranan kepribadian dalam proses belajar antara lain aspek motivasi, emosional, sikap dan sebagainya.
Terjadinya proses belajar dapat dipandang dari sisi kognitif, sebagaimana dikemukan bigge ( 1982 ) yairu berhubungan dengan perubahan – perubahan tentang kekuatan variable-variabel hipotesis, kekuatan-kekuatan,asosiasi, hubungan – hubungan dan kebiasaan dan kecendrungan perilaku.
Rumusan diatas menyatakan bahwaproses belajar terjadi apabila individu dihadapkan pada situasi dimana ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan cara biasa, atau apabila ia harus mengatasi rintangan-rintangan yang mengganggu kegiatan-kegiatan yang di inginkan. Belajar merupakan suatu proses interaksi antara berbagai unsur yang berkaitan. Unsur utama dalam belajar adalah individu sebagai peserta belajar, kebutuhan sebgai sumber pendorong, situasi belajar yang memberi kemungkinan terjadinya kegiatan belajar. Dengan demikian maka manivestasi belajar atau perbuatan belajar dinyatakan dalam bentuk perubahan tingkah laku.

2. Landasan konsep pembelajaran
a. filsafat
Proses belajar pada dasarnya melibatkan upaya yang hakiki dalam membentuk dan menyempurnakan kepribadian manusia dengan berbagai tuntutan kehidupannya. Secara filosofis belajar berarti mengingatkan kembali pada manusia mengenai makna hidup yang bisa dilalui melalui proses meniru, memahami, mengamati, merasakan, mengkaji, melakukan dan melakukan segala sesuatu kebenaran sehungga semuanya memberikan kemudahan dalam mencapai segala yang dicita-citakan manusia. Harapan filosofis bahwa dengan belajar maka segala kebenaran di alam semesta ini bisa dinikmati manusia yang pada akhirnya akan menyadari bahw alam semesta ini ada yang menciptakannya.

b. Psikologis
Perilaku manusia itu bisa berubah karena belajar, akan tetapi apakah manusia itu memahami perilakunya sendiri atau menyadari dia harus berperilaku seperti apa jika berada, atau dihadapkan dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Maka perilaku yang masih dicari inilah dapat dikaitkan dengan kajian ilmu psikologi. Psikologi sebagai ilmu kejiwaan yang akhirnya mempelajari produk-produk dari kejiwaan ini dalam bentuk perilaku-perilaku yang nampak dan sangat dibutuhkan dalam proses belajar.

c. Sosiologis
Manusia adalah makhluk social dan individu maka melalui belajar individu bisa mempelajari lawan bersosialisasi, teman hidup bersama dan akhirnya melalui belajar manusia mampu membangun masyarakat sampai Negara dan bangsa. Jika dalam belajar tanpa arah dan tujuan pada makna hidup manusia sebagai makhluk social, maka belajar dijadikan cara saling menguasai,memusnahkan karena segala sesuatu yang dipelajari diketahui, dipahami melaui belajar tidak digunakan dalam menciptakan kondisi kedamain dunia. Landasan sosiologis ini sangat penting dalam mengiringi perkembangan inovasi pembelajaran yang banyak berimbas oleh perubahan zaman yang semakin hedonistic. Maka pemahaman akan belajar yang ditinjau dari aspek sosiologis inilah yang sangat dubutuhkan dewasa ini.

d. Komunikasi
Pendidikan dan komunikasi ibarat setali tiga uang, yang satu memberikan pemakaian terhadap yang lainnya. Dalam prakteknya proses belajar atau pembelajaran akan menghasilkan kondisi dimana individu dalam hal ini siswa dan guru, siswa dengan siswa atau interaksi yang komplek sekalipun akan pasti ditemukansuatu proseskomunikasi. Landasan komunikasi ini banyak memberikan warna dalam bentuk pendekatan, model, metode dan strategi pembelajaran serta pola-pola inovasi pembelajaran.

3. Proses pembelajaran
Bila semua masyarakat perguruan tinggi telah memahami dengan baik tentang proses pembelajaran mahasiswa aktif, learning hor to learn, penyiapan sumber daya telah diatur dengan baik dan penyiapan konten sudah tersedia dengan baik san SAP yag telah mengatur dengan baik mekanisme prosespembelajaran maka proses pembelajaran akan lebih mudah. Proses pembelajaran hanya menerapkan kemampuan dan menggunakan serta mengikuti mekanisme yang telah diatur dengan baik dalam SAP. Proses pembelajaran yang telah direncanakan dengan baik akan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Selain proses pembelajaran sudah ditata dengan baik, juga harus selalu meminta feed back dan melakukan kajian untuk membenahi proses pembelajaran.

4. Perkembangan konsep dasar Pembelajaran
Pembelajaran ( Instruction ) merupakan akumulasi dari konsep mengajar ( teaching ) dan konsep belajar ( Learning ). Penekanannya terletak pada perpaduan anatar keduanya, yakni kepada penumbuhan aktivitas subjek didik. Konsep tersebut dapat dipandang sebagai usaha system sehingga dalam system belajar ini terdapat komponen-komponen siswa atau peserta didik, tujuan, materi untuk mencapai tujuan, fasilitas dan prosedur serta alat atau media yang harus dipersiapkan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Davis ( 1974 : 30 ) bahwa learning system menyangkut pengorganisasian dari perpaduan antara manusia, pengalaman belajar, fasilitas, pemeliharaan atau pengontrolan dan prosedur yang mengatur interaksi perilaku pembelajaran untuk mencapai tujuan. Kenyataannya bahwa dalam proses pembelajaran terjadi pengorganisasian, pengelolaan dan transformasi informasi oleh dan dari guru kepada siswa. Ketiga kategori kegiatan dalam proses pembelajaran ii berkait erat dengan aplikasi dan konsep system informasi management.
Keterampilan mengorganisasi informasi ini merupakan dasar kelancaran proses pembelajaran. Agnew dkk ( 1976 : 17 ) mengungkapkan bahwa belajar adalah kemampuan untuk mengorganisasi informasi merupakan hal yang mendasar bagi seseorang peserta didik. Meier ( 2002 : 203 ) mengemukakan bahwa semua pembelajaran manusia pada hakekatnya mempunyai empat unsure yakni, persiapan ( preparation ), penyampaian ( presentation ), pelatihan ( practice ) dan penampilan hasil ( performance )

a. Persiapan
Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan peserta belajar untuk belajar. Tanpa itu pembelajaran akan lambat dan bahkan dapat berhenti sama sekali. Namun karena selalu bersemangat untuk mendapat materi, tahap ini sering diabaikan, sehingga mengganggu pembelajaran yang baik. Persiapan pembelajaran itu seperti mempersiapkan tanah untuk ditanami benih. Jika dilakukan dengan benar niscaya menciptakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan yang sehat, begitu juga dengan pembelajaran. Tahap ini penting mengingat bahwa untuk mendekati situasi belajar, misalnya, peserta belajar harus menghadapi segala macam rintangan yang potensil dapat mengganggu. Seperti tidak adanya manfaat, takut gagal, benci pada topik pembelajaran, dipaksa hadir, merasa sudah tahu, dan merasa bosan. Semua rintangan ini dan yang lainya dapat menyebabkan stress, beban otak dan kemerosotan dalam kemampuan belajar.
Berdasarkan hal diatas, mka tujuan tahap persiapan adalah untuk menimbulkan minat peserta belajar, memberi mereka perasaan positif mengenai pengalaman belajar yang akan dating dan menempatkannya dalam situasi optimal untuk belajar. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan sugestif positif, memberikan pernyataan yang memberi manfaat, memberi tujuan yang jelas dan bermakna. Tahap ini bertujuan membangkitkan rasa ingin tahu dan mengajak belajar penuh dari awal.
Asumsi negative cenderung menciptakan pengalaman negative dan asumsi positif cenderung menciptakan pengalaman positif. Sugesti tidak boleh berlebihan, menimbulkan kesan bodoh, dangkal tetapi harus realistik, jujur dan tidak bertele-tele. Sugesti baik positif maupun negatif akan tercipta oleh ligkungan belajar itu sendiri. Pengaturan ruang kelas sering menimbulkan sugesti negative, jika lingkungan fisik mengilhami perasaan negtif dan mengingatkan orang pada pengalaman yang tidak manusiawi,maka lingkumham itu memberi pengaruh negative pada pembelajaran. Sehingga diperlukan alternatif lingkungan yang memberi kesan gembira, positif dan membangkitkan semangat.
Ada garis lurus antara tujuan dan manfaat, tetapi cenderung dikaitkan dengan apa, sedangkan manfaat dikaitkan dengan mengapa. Peserta belajata dapat belajar paling baik jika mereka tahu mengapa merek belajat dan dapat menghargai bahwa pelajaran mereka punya relevansi dan nilai bagi mereka sendiri secara pribadi. Orang belajar untuk mendapatkan hasil bagi sendiri. Jika mereka tidak melihat ada hasilnya, mengapa harus belajar. Oleh karena itu, pentig sekali untuk sejak awal menegaskan manfaat belajar sesuatu agar orang merasa terkait dengan topic pembelajaran itu secara positif. Dalam banyak kasus, persiapan pembelajaran dapat dimulai sebelum dimulaiya proses pembelajaran. Jika dapat diusahakan, peserta belajar diberi sarana persiapan sebelum belajar yang berisi beraneka pilihan peralatan untuk membantu mereka agar siap belajar. Sarana itu dapat membantu menyingkirkan rasa takut, menentukan tujuan, menjelaskan manfaat, meningkatkan rasa ingin tahu dan minat serta menciptakan perasaan positif mengenai pengalaman belajar yang akan datang.
Untuk membantu mempersiapkan orang mendapatkan pengalaman belajar yang optimal, diperlukan lingkungan kerja sama sejak awal. Kerja sama membantu peserta belajar mengurangi stress dan lebih banyak memanfaatkan energinya untuk belajar. Upaya belajar yang benar-benar bergantung pada peserta belajar dan bukan merupakan tanggung perancang atau fasilitator. Salah satu tujuan penyiapan peserta belajar adalah mengajak memasuki kembali dunia kanak-kanak mereka, sehingga kemampuan bawaan mereka untuk belajar dapat berkembang sendiri.

b. Penyampaian ( Presentation )
Tahap penyampain dalam siklus pembelajaran dimaksudkan untuk mempertemukan peserta belajar dengan materi belajar yang mengawali proses belajar secara positif dan menarik. Presentasi berarti pertemuan, dimana fasilitator dapat memimpin tetapi peserta belajar yang harus menjalani pertemuan itu. Pembelajaran berasal dari keterlibatan aktif dan penuh seseorang peserta belajar dengan pelajaran dan bukan dari mendengarkan persentasi guru atau dosen saja. Belajar adalah menciptakan pengetahuan bukan menelan informasi, maka presentasi dilakukan semata-mata untuk mengawali proses belajar dan bukan untuk dijadikan focus semata.
Tahap penyampaian dalam belajar bukan hanya sesuatu yang dilakukan fasilitator, melainkan sesuatu yang secara efektif melibatkan peserta belajar dalam menciptakan pengetahuan disetiap langkahnya.

c. Latihan ( Practice )
Tahap latihan ini dalam siklus pembelajaran berpengaruh terhadap 70% atau lebih pengalaman belajar keseluruhan. Dala tahap inilah pembelajaran yng sebenarnya pembelajaran berlangsung. Bagaimanpun apa yang dipikirkan dan dikatakan serta dilakukan pembelajaran yang menciptakan pembelajaran dan bukan apa yang dipikirkan, dikatakan serta dilakukan oleh instruktur atau pendidik. Peranan pendidik hanyalah memprakarsai proses belajar dan menciptakan suasana yang mendukung suasana kelancaran pelatihan. Dengan kata lain tugas infrastruktur hanyalah penyusun kontek tempat peserta belajar dapat menciptakan isi yang bermakna mengenai materi belajar yang sedang dibahas. Tujuan tahap pelatihan adalah membantu peserta belajar mengintegrasikan dan menyerap pengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara.

d. Penampilan hasil ( performance )
Belajar adalah proses mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pengalaman, pengalaman menjadi kearifan dan kearifan menjadi tindakan. Tujuan tahap penampilan hasil adalah untuk memastikan bahwa pelajaran tetap melekat dan berhasil diterapkan dan membantu peserta dan memperluas pengetahuan atau keterampilan baru mereka pada pekerjaan sehingga hasil pekerjaan akan melekat dan penampilan hasil akan terus meningkat seperti, penerapan didunia maya dalam tempo segera, penciptaan dan pelaksanaan rencana aksi dan efektifas penguatan penerapan .

5. Hasil belajar dan pembelajaran
Secara keseluruhan pemahaman terhadap konsep dasar pembelajaran tidak akan sempurna jika berhenti pada defenisi atau proses. Berikut uraian dari kaitan antara hasil pembelajaran yang sangat diharapkan sekali oleh semua lapisan masyarakat belajar khususnya peserta didik.

a. Hasil belajar
Bloom ( 1956 ) mengemukan 3 ranah hasil belajar yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Untuk aspek kognitif, bloom menyebutkan 6 tingkatan yaitu :
1. pengetahuan
2. pemahaman
3. pengertian
4. aplikasi
5. analisa
6. sintesa
7. evaluasi
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya proses belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku secara keseluruhan baik yang menyangkut segi kognitif, afektif maupun psikomotor.
Secara umum, hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu faktor-faktor yang ada didalam diri siswa dan faktor eksternal yaitu, faktor-faktor yang berada diluar diri pelajar. Yang tergolong faktor internal ialah :
1. Faktor fisiologis atau jasmani individu baik bersifat bawaan maupun diperoleh dengan melihat, mendengar, struktur tubuh, cacat tubuh dan sebagainya
2. Faktor psikologis baik bersifat bawaan maupun keturunan yang meliputi :
a. Faktor intelektual terdiri atas
1. Faktor potensial, yaitu intelegensi dan bakat
2. Faktor actual, yaitu kecakapan nyata dan prestasi
b. Faktor intelektual yaitu komponen – komponen kepribadian tertentu seperti sikap, minat, kebiasaan, motivasi, kebutuhan, konsep diri, penyesuaian diri, emosional dan sebagainya.
3. Faktor kematangan baik fisik maupun psikis, yang tergolong faktor eksternal ialah :
a. Faktor sosial yang terdiri atas
1. Faktor lingkungan keluarga
2. Faktor lingkungan sekolah
3. Faktor lingkungan masyarakat
4. Faktor kelompok

b. Faktor budaya seperti : adapt istiadat, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesenian dan sebagainya
c. Faktor lingkungan fisik seperti : fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim dan sebaginya
d. Faktor spiritual atau lingkungan keagamaan.

Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi secara langsung atau tidak langsung dalam mempengaruhi hasil belajar yang dicapai seseorang, karena adanya faktor – faktor tertentu yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu motivasi berprestasi, intelegensi dan kecemasan.

b. Motivasi menuju hasil proses pembelajaran
Pengaruh motivasi disini adalah motivasi baik intern maupun ekstern terhadap hasil belajar yang dimaksud, menurur Hilgrad, motif merupakan tenaga penggerak yang mempengaruhi kesigapan untuk memulai melakukan rangkaian kegiatan dalam suatu perilaku. Menurut jenisnya motif dibedakan menjadi motif primer dan sekunder, yang diikuti oleh syamsudin ( 1990 ), yang diikuti oleh Subhana, membedakan motif sebagai berikut :
1. Motif primer ( primary motive ) atau motif dasa ( basic motive ) menunjukan kepada motif yang tidak dipelajari ( unleadned motive ) yang sering juga digunakan istilah dorongan ( drive )
2. Motif sekunder ( secondary motive ) menunjukan kepada motif yang berkembang dalam diri individu karena pengalaman dan dipelajari. Kedalam golongan ini termasuk :
a. Takut yang dipelajari ( learning fears )
b. Motif-motif sosial ( ingin diterima, ingin dihargai, conformitas, afiliasi, persetujuan, status, merasa aman dan sebagainya )
c. Motif-motif objektif dan interest ( eksplorasi, manipulasi, minat )
d. Maksud ( purposes ) dan aspirasi
e. Motif berprestasi ( achievement motive )

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s